Maha Penyayang
Pernah enggak kamu menangis secara tiba-tiba tanpa tahu gimana cara berhentinya?
Aku pernah, dan itu terjadi pekan lalu.
Sehari itu, atas izin Allah SWT, aku dipertemukan dengan banyak orang dengan beragam kondisi yang berbeda. Saat berjalan melewati pasar, aku bertemu seseorang yang tidak lengkap anggota badannya dan tetap semangat mencari nafkah dengan cara yang halal. Saat mengunjungi sebuah sekolah tidak jauh dari sana, aku mendapati fakta bahwa anak-anak yang tengah riang gembira berlarian di lapangan itu tidak pernah tahu siapa ayah ibunya. Saat berbincang dengan Kepala Sekolah di sana, aku jadi tahu bahwa banyak di antara mereka harus bergantian ke sekolah dengan kakak/adiknya karena keluarganya hanya punya satu buah seragam dan uang saku yang hanya cukup untuk satu anak setiap harinya. Yang tidak kebagian sekolah hari itu, akan bertugas mencari nafkah bersama orang tua mereka. Saat berjalan ke arah stasiun, aku melewati perkampungan tidak layak huni yang ternyata tetap terasa hidup karena tawa lepas penghuninya yang terdengar dari dalam rumah.
Anehnya, saat menaiki KRL untuk pulang ke rumah, aku mendadak amnesia dengan semua pemandangan tadi. Aku kembali sibuk dengan diriku sendiri. Aku mengeluh dalam hati karena tidak dapat tempat duduk padahal saat itu aku sungguh capek. Saat melihat perempuan-perempuan di gerbong yang sama, berpenampilan menarik, cantik dan berkelas, aku merasa rendah diri karena merasa tidak secantik mereka. Sesampainya di rumah, aku mendapati diriku menggerutu karena sambungan internet yang macet, badan yang capek, piring kotor yang menumpuk dan pekerjaan kantor yang tidak kunjung usai.
Selepas bebersih dan sholat Maghrib, perasaan aneh itu kemudian menyergapku. Masih di atas sajadah, tiba-tiba aku ingin sekali menangis, tanpa tahu alasannya. Tanpa dapat aku kontrol, air mataku sudah membanjiri wajahku diikuti dadaku yang terasa sangat sesak. Aku yang masih belum dapat menavigasi apa yang terjadi dengan diriku, memutuskan untuk melepaskan saja emosi yang hadir ini. Aku mengizinkan diriku menangis sejadi-jadinya dan setelahnya adegan demi adegan yang aku lalui sejak pagi tadi mulai memenuhi ingatanku kembali. Aku yang dipertemukan dengan banyak orang itu dan aku yang banyak mengeluh. “Wah aku lagi kena tegur sama Allah!” dan satu ayat Al Quran yang entah kenapa ingin aku ucap adalah ayat legendaris dari QS Ar Rahman yang diulang sebanyak 31 kali. Ayat favorit sejuta umat: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)
Aku mengucapnya berulang-ulang sambil menutupi wajahku yang banjir air mata. Saat itu yang aku rasakan hanyalah rasa malu yang teramat sangat. Rasanya seperti saat kamu ketahuan salah, lalu tertangkap basah. Kamu merasa tidak bisa lari kemanapun selain mengakui kesalahan saat itu juga.
Setelah beberapa saat aku berhasil mengendalikan tangisku yang barbar itu, cepat-cepat kuambil Al Quran untuk membuat hatiku lebih tenang. Lagi-lagi dengan izin Allah, tanpa aba-aba apapun, jemariku membuka Al Quran tepat di awal surat Ar Rahman. Merinding, takut dan terpana jadi satu. I mean, dari 605 halaman dari Al Quran, kok ya pas banget! Allahu Akbar.
Yang sebelumnya aku sudah tidak menangis, karena kebetulan yang sebetulnya bukan kebetulan itu, aku menangis lagi merasakan betapa uniknya cara Allah menegurku. Seolah-olah Allah pengen bilang, “baca surat Ar Rahman dulu ya kamu biar enggak banyak ngeluh!” 😭
Dan sampai sekarang, Surat Ar Rahman masih tetap menjadi my go-to surah kalau merasa mainnya kejauhan sampai bingung nemuin jalan balik ke Allah. Kalau teringat momen itu, aku cuma pengen bilang, Allah memang Sang Paling Penyayang, Maha Penyayang dari semua yang paling penyayang yang pernah ada. Ah, jadi makin sayang sama Allah. 😍
Semoga kita selalu ingat untuk bersyukur akan setiap kasih sayang Allah ygy, seperti layaknya kita ingat untuk bernapas. Semoga juga kita bisa sedikit ambil jeda dari setiap kesibukan kita setiap harinya. Karena jangan-jangan banyak momen saat Allah sedang menyampaikan sesuatu ke kita, tapi kitanya sok sibuk, "nanti dulu ya Allah, aku sedang sibuk nih". 😭
Untung Allah Maha Penyayang ya, yang tetap sayang sama hambaNya walau hambanya suka ngeluh, sok sibuk dan sok paling oke kaya aku ini. Astaghfirullah. :(

Komentar
Posting Komentar