Ke Sarai Bagian 1: Menyapa Laut Sabu
Berhubung kita sudah di penghujung pandemi dan aktivitas kini sudah mulai berangsur normal, aku ingin mengambil waktu sejenak untuk mengilas balik beberapa momen penting di masa-masa pandemi tiga tahun ke belakang. Salah satunya adalah saat berkesempatan melakukan perjalanan ke timur Indonesia, tepatnya ke Sabu Raijua (Sarai), Nusa Tenggara Timur. Enggak nyangka sudah lebih dari setahun aku terus menerus menunda untuk menuliskan ini. :’)
Sebelum makin terlambat, mari kembali mengais-ngais ingatan yang tersisa dari perjalanan ke Sarai 28 Agustus - 11 September 2021 lalu. Karena ini akan jadi cerita yang panjang, jadi akan aku bagi tulisannya ke tiga bagian ya, biar jadi semacam cerbung. 😀
Sebagai konteks, aku ke Sarai untuk melakukan kunjungan lapang ke teman-teman Pengajar Muda (PM) XX Indonesia Mengajar Kabupaten Sabu Raijua. Sungguh sebuah kehormatan mendapat kesempatan untuk site visit ini karena biasanya hanya para staf senior Indonesia Mengajar yang diberangkatkan. Namun karena saat itu aku sedang menjadi relawan mentor PM, aku jadi punya semacam privilese untuk menjadi site visitor. Sebenarnya kesempatan emas itu pun datang dengan tantangan yang besar. Pertama, pelaksanaan kunjungan lapang itu butuh lebih dari 10 hari, sehingga bagi yang bekerja penuh waktu dengan cuti terbatas, hal ini sudah jadi tantangan tersendiri. Kedua, saat itu kasus pandemi sedang naik-naiknya. Perjalanan darat dan udara memang sudah diperbolehkan tetapi protokolnya enggak main-main. Untuk yang ini risikonya antara terinfeksi virus Covid-19 selama perjalanan dan terjebak di daerah berhari-hari jika hasil tesnya positif. Ketiga, perjalanan ke daerah penempatan PM enggak pernah ada yang mudah. Butuh kekuatan fisik dan mental yang kuat untuk melakukan perjalanan dengan beragam moda transportasi selama berhari-hari. Keempat, kunjungan lapang ini dilakukan sendiri.
Awalnya ragu. Walaupun bagiku tantangan pertama enggak jadi masalah karena syukurnya tempat kerjaku cukup fleksibel. Namun setelah hampir dua tahun di rumah saja dan enggak melakukan perjalanan ke mana pun, membayangkan pergi ke daerah 3T di tengah pandemi itu cukup bikin ngeri. Khawatir kalau-kalau fisik dan mental enggak cukup kuat apalagi sudah lebih dari 3 tahun semenjak aku jadi PM. Tapi anehnya aku seyakin itu untuk berangkat. Mungkin karena saking rindunya dengan suasana daerah penempatan PM dan rasa ingin bertemu dengan para mentee yang sudah berbulan-bulan cuma ketemu daring. Setelah meminta doa restu orang tua dan menimbang-nimbang segala risiko, akhirnya bulat juga keputusan untuk berangkat ke Sabu Raijua!
Sebagai gambaran, Sabu Raijua merupakan sebuah kabupaten di daerah Nusa Tenggara Timur. Kalau dari Jakarta, kamu harus naik pesawat dulu sampai di Kupang lalu lanjut naik kapal selama 12 jam sampai di Pelabuhan Seba. Kalau mau ke pulau Raijua, kamu harus sambung naik kapal kecil selama 2 jam dari Pulau Sabu. Seperti layaknya daerah-daerah Timur Indonesia, Sabu Raijua terkenal dengan pantainya yang cantik bukan main.
Oke, balik dulu ke momen keberangkatan yang cukup memompa adrenalin. Sehari sebelum berangkat, aku bilang sama adik-adikku kalau perjalanan ini enggak kalah mendebarkannya dengan perjalanan atlet yang sedang ikut olimpiade (waktu itu sedang momen-momen olimpiade). Kekhawatiran demi kekhawatiran ibarat babak-babak yang perlu dilalui satu per satu sampai akhir. Medali emasnya tentu saja bisa pulang kembali ke rumah dengan selamat tanpa kurang suatu apapun. Walau selama perjalanan 14 hari itu harus melalui sensasi debar-debar, bingung, takut, ragu, mules-mules dan enggak nafsu makan, Alhamdulillah setelah dijalani ya aman-aman saja. Dan kebanyakan dari daftar kekhawatiran itu enggak terjadi. Oh, overthinking! Dan pastinya kelancaran demi kelancaran waktu itu hanya mungkin karena pertolongan Allah lewat tangan orang-orang baik.
Pertama para lelaki tampan andalanku, tiga adik laki-lakiku, yang sungguh sabar untuk direpoti mengurus tes PCR, mengurus tiket, beli barang-barang, packing barang bawaan, cetak dokumen perjalanan yang banyaknya segambreng, mengajariku pakai kamera, dan juga mengantar ke stasiun. Dan karena aku enggak sedang di Jakarta tapi di Pekalongan, perjalanan ke Kupang jadi semakin menantang. Aku harus ke stasiun dulu lalu untuk naik kereta lima jam ke Surabaya lalu sambung ke bandara untuk naik pesawat ke Kupang. Baru babak pertama, tapi sudah enggak tahu lagi berapa banyak doa yang aku ucapkan agar semuanya lancar. Di perjalanan enggak bisa tidur dan enggak nafsu makan. Karena kebayang satu saja hal enggak sesuai rencana, aku bisa batal ke Sarai.
Syukurlah perjalanan kereta dan pesawat ke Kupang lancar-lancar. Ada rasa haru bisa naik kereta dan pesawat lagi setelah sekian lama. Sesampainya di Kupang, aku masih harus menginap dua hari satu malam karena kapal ke pelabuhan Seba enggak tersedia setiap hari. Bermodal intuisi di kota yang semuanya serba asing ini, aku menyewa sebuah kamar yang pemiliknya seorang Muslim, namanya Villa de Kupang. Super happy karena harganya murah tapi kamarnya bagus banget!
Dan seperti sudah diorkestrasikan oleh Sang Maha Kuasa, aku yang sedang singgah di sebuah masjid di sana dipertemukan dengan orang baik, yang awalnya hanya cuma memberi tahu warung makan halal tetapi kemudian berbaik hati mengantarkanku ke ATM, mencarikan tiket kapal, mengantarkan ke pelabuhan dan memperkenalkanku dengan penumpang lain agar aku enggak sendirian selama di kapal.
Selama di Kupang walau cuma dua hari sebelum berangkat ke Sabu, enggak henti-hentinya aku mengagumi keindahan alamnya dan makanan lautnya yang enak banget :’)
Waktu pamer ke teman-teman di Sabu Raijua kalau aku sedang lari pagi di pantai Kupang, mereka bilang, “Itu belum seberapa kak, siap-siap terpesona ya besok waktu sampai sini.” WOW.
Akhirnya perjalanan naik kapal perintis selama 12 jam itu pun dimulai. Dimulai dari antre tes antigen yang bikin deg-degan, karena kalau hasilnya positif sudah pasti aku tertahan di Kupang dan enggak bisa menyebrang. Lalu harus sabar menunggu bongkar muatan sampai berjam-jam, hingga masuk dan memilih tempat tidur yang paling nyaman. Ini juga jadi momen epik karena baru pertama kalinya naik kapal perintis yang waktu masuk ke dalam isinya tempat tidur bersusun-susun. Lagi-lagi Allah mengirim penjagaanNya lewat dua perempuan asli Sabu yang Masya Allah baiknya mau menjaga dan memastikan aku aman dan nyaman di atas kapal. Novi, Yarni dan putrinya, Wilda yang berbaik hati berbagi makanan, membawakan barang-barangku yang banyak, mencarikan tempat yang layak untuk sholat (walau mereka bukan muslim), sampai memastikan aku dan barang-barangku aman sampai bertemu dengan teman-teman PM yang menunggu di Pelabuhan Seba. Baru perihal berangkat, tapi sudah banyak banget pelajaran yang aku dapat: pentingnya perencanaan yang matang dengan beragam rencana alternatif, mitigasi risiko, membangun relasi dengan tetap waspada, menjaga komunikasi dengan keluarga dan teman-teman, dan yang pasti selalu berdoa dan berprasangka baik kepada Sang Maha Pemelihara.
Setelah 12 jam perjalanan di atas kapal dari pukul 20.00 WITA hingga 08.00 WITA, membelah ombak laut Sabu dan menyapa matahari timur pertama yang aku lihat di 2021, akhirnya kapal Cantika 9E itupun bersandar di Pelabuhan Seba. Setelah melihat keenam PM Sarai di pelabuhan itu, ada rasa lega yang luarbiasa besar. Lalu kubilang ke mereka, “sepanjang ini ya perjalananku demi ketemu kalian!”
Only with His permission (hanya dengan izin-Nya lah) aku bisa menginjakkan kaki di Rai Hawu, Tanah dari Hawu.
Bersambung ke bagian 2 🙂



Komentar
Posting Komentar