Bye Bye BTS Part 2: Into Magic Shop
Tanggal 13 Desember lalu, jagat maya dihebohkan dengan foto-foto Seokjin saat masuk pusat pelatihan wajib militer. Tidak lama sebelum itu, Namjoon meluncurkan album solo-nya yang berjudul 'Indigo', Yoongi juga rilis kanal YouTube pribadinya, Hoseok memenangkan penghargaan di MAMA Award 2022 dan yang juga tidak kalah mencuri perhatian, si bontot Jungkook tampil di panggung megah pembukaan FIFA World Cup 2022.
Dari informasi di atas, kamu jadi tahu kalau aku masih juga akrab dengan BTS. “Loh, gimana sih katanya udah hijrah?”, mungkin kamu pengen bilang itu tepat di depan hidungku, setelah selesai membaca serial Bye Bye BTS Part 1 yang aku unggah April lalu. Kalau kamu belum baca, mungkin kamu baca ini dulu biar nyambung 😀
Enggak bisa dipungkiri kalau cukup sulit untukku menulis kelanjutan dari serial cerita perjalanan move on dari BTS ini. Pertama karena setelah part 1 ditulis, aku masih menemukan diriku kepo akan kabar bujang-bujang ini. Terus sebagian diriku marah-marah: "terus ngapain lu tulis ini, mbakyuuu?!", sehingga aku merasa seperti munafik. Ini sebenarnya tulisan mau dibawa kemana…
Kedua, karena aku sempat merasa, "halah, apa pentingnya sih nulis ini. Enggak banyak juga yang baca."
Tapi syukurnya, Allah SWT menuntun pikiran, hati dan tanganku untuk akhirnya menyelesaikan ini juga. Ada bisikan seperti ini di hati, “menulis itu untuk diri sendiri”. Nah!
Bagian kedua ini ditulis delapan bulan setelah yang pertama. Dan setelah delapan bulanpun aku masih belum 100% move on, terbukti dengan update-update 7 anggotanya yang sengaja atau tidak sengaja aku ketahui sampai saat ini. Tapi dibanding masa-masa galau itu, hubunganku dengan mereka saat ini memang terasa lebih sehat. Tsaaah~ (terdengar agak gimana gitu ya?)
Jadi, sebenarnya apa yang aku alami saat itu? Sampai kepikiran buat bertanya ke Google: Cara move on dari BTS. Aku literally mengetik itu karena merasa cupu selalu kalah sama nafsu sendiri.
Sejalan dengan apa kata orang, “you are what you eat”. Apa yang dikonsumsi ini pastinya tidak sebatas makanan, tapi ya apa yang didengar, dilihat dan input-input lain yang dimasukkan kedalam diri. Waktu itu, aku masih ingat betul, hari-hari di mana konten-konten BTS selalu setia menemani hampir 24 jam. Memang ada euforia ketika menonton/mendengarnya, tapi ternyata itu semua ya sementara. Karena setelahnya, rasa capek/sedih yang aku rasakan tetap ada, yang ada malah ada tambahan perasaan bersalah, stagnan (gini-gini aja) dan asing dengan diri sendiri. Walau waktu itu enggak yakin, sebenarnya merasa bersalah sama siapa? Kenapa merasa asing sama diri sendiri? Kenapa oh kenapa aku merasa ini salah?
Yang pasti aku bersyukur karena itu artinya, alarm imanku masih hidup, masih ada sisa-sisa baterai walau sudah lama tidak aku isi dayanya.😁
“Jadi mau sampai kapan buang-buang waktu kaya gini? Mau sampai kapan banding-bandingin terus sama kesuksesan mereka? Mau sampai kapan menggantungkan kebahagiaan kamu ke mereka? Mau sampai kapan hidup gini-gini aja woy!?” - mungkin itu yang coba alarm iman-ku mau coba sampaikan saat itu.
Aku enggak mau lagi sulit berkonsentrasi apalagi saat ibadah, aku enggak mau lagi buang-buang waktu untuk hal-hal yang kurang produktif padahal amanah masih numpuk, dan aku enggak mau lagi jadi diriku yang gini-gini aja padahal usiaku makin tua.
Dan alhamdulillah, Allah menunjukkan jalan lewat berbagai amanah yang datang sehingga aku makin sibuk dan udah keburu capek kalau mau nontonin mereka. Allah tuntun jariku untuk baca blognya Mbak Indah Eka yang ini, lalu ketemu akunnya Fuadh Sajangnim, baca buku Pernah Tenggelam, lalu gabung komunitas Xkwavers, dan sampai akhirnya ketemu dengan komunitas AAplus. Bagiku ini persis apa yang dikenal dengan law of attraction, niat baik akan menarik kebaikan-kebaikan lain mendekat.
Dari pengalaman kecanduan BTS, aku sempat menyesal dan mengandaikan jika saja dulu enggak pernah kenal sama mereka, karena ternyata sesulit ini untuk lepas. Tapi setelah dipikir-pikir, mungkin memang harus melalui proses kecanduan ini dulu untuk Allah tunjukkan bahwa ada yang harus diubah dari seorang Ayendha. Dan aku mau garisbawahi bahwa: INI BUKAN TENTANG BTS-NYA, TAPI TENTANG APA-APA YANG MEMBUAT KITA TERLENA. BTS ini layaknya satu dari miliaran entitas di luar diri yang menarik dan bikin kita tertarik berlebihan. Bisa jadi untuk kasusmu bukan BTS, tapi IG? musik dangdut? Artis Hollywood? batu akik? Andin dan Aldebaran?
Jadi untuk merangkum, aku pengen berbagi tiga reflesi yang aku bisa ambil dari perjalananku (aku masih menyebut perjalanan karena aku masih juga berjuang, doakan ya!) berlepas diri dari hal-hal menarik duniawi dan melenakan dari kehidupan setelah kematian. Mungkin salah satunya bisa jadi penyemangat kamu-kamu yang juga sedang berjuang.
Lalu pertanyaan untukku pribadi: apakah menonton konten-konten BTS membantuku mencapai tujuanku tersebut?
2) Ingat Lima Perkara Sebelum Lima Perkara.
Kalau ini persis yang dibilang BTS sendiri dalam lagunya yang berjudul Magic Shop. Bagiku ini sebuah undangan, bahwa kita, aku dan kamu yang mungkin seorang Army sudah mendukung mereka menjadi yang terbaik, sekarang saatnya kita memberikan yang terbaik untuk diri kita sendiri. Ambil inspirasi dan motivasi sewajarnya dari mereka atau dari para panutan lainnya untuk memacu diri jadi versi terbaik diri kita sendiri. BTS punya cita-cita jadi seorang boyband paling terkenal dan sukses, which is okay. Pertanyannya untukku sendiri: apa aku punya cita-cita yang sama dengan mereka? kalau jawabannya enggak, berarti jalan hidup kita memang harus berbeda.
Semoga seperti bagaimana BTS terinspirasi dengan Magic Shop, sebagai sebuah upaya untuk hidup lebih damai dan bahagia untuk diri dan sesama, kita juga bisa menemukan Magic Shop kita sendiri, yang sejalan dengan tujuan hidup kita masing-masing. :)



Komentar
Posting Komentar