Ke Sarai Bagian 2: Berbagi DNA
Setelah tiga hari dua malam, akhirnya sampai juga di Pulau Sabu. Sungguh sebuah perjalanan yang panjang. Sesampainya di Pelabuhan Seba, aku langsung disambut oleh wajah-wajah yang terlihat dan terasa familiar. Anak-anak muda dengan rompi Pengajar Muda-nya, berkulit gelap, berdandan seadanya, tapi berenergi luar biasa. Disapa mereka rasanya seperti disapa diriku sendiri tiga tahun yang lalu :')
Jadilah bagian kedua dari seri Ke Sarai ini akan lebih banyak bercerita tentang 10 hari mengulang pengalaman menjadi Pengajar Muda (PM), lewat dinamika bersama enam Pengajar Muda Sarai beserta semestanya.
Bagi yang belum tahu tentang program pengiriman PM oleh Indonesia Mengajar, setiap daerah penempatan biasanya akan bersepakat dengan IM untuk 4 atau 5 tahun program. Setiap tahunnya diisi oleh angkatan yang berbeda. Saat aku ditempatkan di Konawe dulu, aku merupakan PM tahun kedua di daerah. Bagi teman-teman PM yang aku temui di Sarai saat ini, mereka adalah PM tahun keempat atau tahun terakhir di daerah.
Saat mulai mengobrol dengan mereka, semua hal terdengar sangat sangat familiar. Tantangan-tantangan yang dihadapi enggak jauh-jauh dari bagaimana membuat inisiatif yang berkelanjutan di tingkat desa dan kabupaten di tengah segala dinamika sosial, budaya dan politik yang ada. Yang berbeda dengan kasusku saat menjadi PM dulu, selain karena beda tempat, adalah mereka jadi angkatan terakhir di daerah yang istilahnya jadi pelari terakhir yang harus membawa tongkat estafet sejak empat tahun lalu sampai garis finis. Beban yang dirasakan oleh aku dan angkatanku dulu pastinya jauh berbeda dengan keenam anak muda yang sedang ada di hadapanku di sini, di Rai Hawu.
Dan salah satu misiku ke sini adalah untuk jadi teman bersiap mereka agar sampai garis finis dengan selamat dan sesuai harapan.
Sebelum membahas persiapan menuju garis finis, rangkaian site visit sendiri dimulai dengan berkeliling mengunjungi masing-masing desa penempatan. Karena Sabu Raijua termasuk kabupaten yang kecil, maka perjalanan ke enam desa itu sama halnya mengelilingi seluruh Kabupaten Sabu Raijua! Untung udah siap koyo dan tolak angin 😂
Kunjungan pertama ke Desa Ledeke dan Kolorae di Pulau Raijua, pulau kecilnya Kabupaten Sabu Raijua. Dari Sabu harus naik kapal kecil Napuru melewati Selat Sabu. Awalnya enggak kebayang kenapa anak-anak itu terlihat tegang saat perjalanan ke pelabuhan. Dan setelah menjalaninya sendiri ternyata memang harus banyak-banyak berdoa melewati Selat Sarai yang kadang tidak bersahabat. Ombaknya yang tinggi karena ada pusaran bawah laut yang kuat membuat perjalanan ke Raijua memang cukup berisiko. Sungguh aku salut dengan keberanian penduduk setempat (dan juga teman-teman PM yang sudah mendadak lokal juga), yang dengan santuy-nya masuk ke kapal dari atas setelah harus menyeberang dulu dari bibir pelabuhan pakai sebilah kayu. Itu kalau kepleset dikit udah langsung nyebur ke laut :')
Syukurnya cuaca saat itu cerah, kami dapat kapal yang ada atapnya, dan fisikku sedang sangat fit. Alhamdulillah. Allah memang paling pengertian 😂
Selama di Raijua aktivitas kami diisi dengan silaturrahim ke keluarga angkat masing2, ke KS (Kepala Sekolah), guru-guru, lalu buat kegiatan bersama penduduk desa, dan refleksi desa dari masing-masing PM. Setiap mendengar pencapaian-pencapaian dari keenam PM itu, aku super bangga dan enggak habis-habisnya kasih tepuk tangan. So proud sama mereka yang tetap mengusahakan banyak hal walau sempat mengalami pengalaman hidup-mati diterjang Badai Seroja dan Covid-19.
Best moment
Saat melewati kembali Selat Sarai menuju Sabu, aku mulai oleng, kepala pusing dan perut mual-mual. Mungkin karena kurang tidur, masuk angin dan mabuk laut 😂. Tapi syukurlah ombak masih cukup bersahabat dan cuaca pun tetap cerah selama tiga jam di atas laut.
Hari-hari berikutnya di Sabu kami habiskan untuk kembali mengunjungi desa-desa penempatan di Sabu (Desa Tanajawa, Ledeae, Keliha, Hallapadji), bertemu pihak Dinas Pendidikan, penggerak kabupaten, dan yang enggak kalah penting sesi internal yang sungguh menguras air mata.
Dari pertemuan demi pertemuan dengan setiap Bapak Ibu angkat teman-teman PM, aku kembali mengingat masa-masa setahun tinggal bersama Bapak Ibu di desaku dulu, Walandawe. Para malaikat tak bersayap yang mau membuka pintu rumah dan pintu hatinya untuk menerima anggota keluarga baru untuk setahun lamanya dan bahkan untuk seumur hidup. Sebuah pelajaran tak ternilai harganya buat kami kami para PM yang belajar setahun lamanya untuk menyesuaikan diri tanpa harus kehilangan jati diri. Kejadian di salah satu keluarga PM yang memintaku untuk mempersembahkan sebuah nyanyian dan tarian Jawa untuk leluhur di sana jadi semacam simbol, bahwa untuk menerima, kita semua butuh terlebih dahulu memperkenalkan diri, siapa kita sebenarnya. Sebagai tanda penerimaan mereka, akupun diundang untuk meminum segelas gula lontar.
Adaptasi budaya memang akan selalu jadi tantangan utama bagi kami-kami di penempatan. Namun jika berhasil melewatinya tanpa harus kehilangan jati diri, saat kembali ke rumah, kita menjelma jadi seseorang dengan hati yang lebih lembut dan pemikiran yang lebih kaya. Gesekan-gesekan yang terjadi karena perbedaan budaya, walaupun tidak selalu berhasil untuk dicegah, pada akhirnya membuka pemahaman dan penerimaan yang lebih tulus.
Serangkaian kegiatan site visit pun ditutup dengan pertemuan dengan para penggerak lokal membahas inisiatif-inisiatif pendidikan yang pernah atau sedang berjalan, apa masalah pendidikan paling urgen yang ingin diselesaikan dan apa yang bisa dikontribusikan oleh masing-masing komunitas di Sabu Raijua. Pertemuan santai di pantai itu kelak jadi cikal bakal lahirnya Pesta Pendidikan Do Hawu yang diinisiasi oleh penggerak daerah dengan dibantu Pengajar Muda.
Enggak berlebihan kalau aku bilang setiap momen di Rai Hawu itu sungguh magis terutama bagiku yang juga seorang alumni PM. Enggak pernah kebayang sebelumnya bisa kembali memakai rompi hijau Pengajar Muda, mengunjungi daerah penempatan lain sebagai site visitor, berkenalan dengan keluarga angkat teman-teman Sarai, menyampaikan rindu dari keluarga untuk teman-teman PM seangkatan yang tiga tahun lalu bertugas di Sarai, lalu berbincang dengan Bapak Ibu guru dengan logat timurku yang seadanya, dan mendapat hak istimewa untuk memfasilitasi pertemuan dengan perangkat desa dan kabupaten, melihat pertunjukan anak-anak, bertemu dengan sesama alumni PM yang sekarang tinggal di Sabu dan yang terakhir, ikut merasakan kehangatan sebuah keluarga yang dibentuk bukan karena hubungan darah atau agama tapi kasih sayang sesama manusia, sesama bangsa Indonesia ❤️
Saat diantar kembali ke Pelabuhan Seba, rasanya seperti ada lubang besar yang menganga di dalam hati. 2,163 km dari rumah, melewati gunung dan lembah, menuju langit dan lautan yang birunya sama-sama mempesona. Datang dengan agenda profesional, tapi pulangnya lebih banyak bawa oleh-oleh personal. Masih menjadi misteri sampai saat ini kenapa bisa merasa aman dan nyaman bersama mereka dari awal sampai akhir pertemuan, padahal baru bertemu. Apa mungkin karena kami berbagi DNA yang sama?
Lewat tulisan ini, aku ingin berterima kasih kepada keenam ama ina Pengajar Muda XX penempatan Sabu Raijua yang namanya tidak perlu aku sebutkan satu-satu. Terima kasih sudah melihatku sebagai manusia seutuhnya, bukan sekedar seorang site visitor saja, tapi manusia yang punya peran berbeda, punya rasa, dengan cerita masa lalu, mimpi di masa depan, dan manusia yang sedang belajar jadi teman dan pendengar yang baik.


.jpeg)
Komentar
Posting Komentar