Khalasha

Khalasha (خَلَصَ) adalah makna dari kata nasihat yang diambil dari kata kerja Nashaha (نَصَحَ). Khalasha sendiri berarti murni dan bersih dari segala kotoran. Aku tahu ini dari blog-nya Almanhaj yang ini, setelah memang sengaja mencari tahu makna Nasihat dalam Bahasa Arab.

sumber: dokumen pribadi, diambil di Masjid At-Tohir

Pagi tadi saat mengendarai motor ke stasiun, sesuatu terjadi. Saat itu jalanan ramai lancar. Seorang mbak-mbak secara tiba-tiba membelokkan motornya tanpa terlebih dahulu melihat kanan kirinya. Aku yang sedang fokus mengendarai motor sambil terus berdoa agar tidak tertinggal kereta, kaget saat motor kami beradu dan hampir saja motorku oleng dan terjatuh. Alhamdulillah atas pertolongan Allah, aku tetap bisa menjaga keseimbangan dan segera mengarahkan motorku ke samping jalan untuk menghindar. Mata kami sempat bertemu sepersekian detik, sebelum akhirnya dia memacu motornya lebih kencang kedepan.


"Astaghfirullahal adzim," aku mengulang-ulang itu ketika berhenti sejenak di pinggir jalan, sambil menenangkan irama jantung yang tidak karuan.


Kaget, iya. Tapi juga ada rasa amarah yang rasanya mau meledak. 


"Gila ya dia, naik motor ugal-ugalan, udah tahu salah enggak minta maaf lagi. Enggak pakai helm pula! Enggak takut apa kalau misal ....," Syukurnya dalam keadaan yang super cepat itu, aku ingat pesan keluargaku untuk selalu punya pemikiran yang positif ketika di jalan, karena di jalan, ada banyak bahaya yang mengintai. Aku cepat-cepat Istighfar lagi sebelum mulai mengumpat lebih kasar dalam hati dan mendoakan yang tidak-tidak kepada mbak-mbak tadi.


Aku jalankan motorku lagi dan memacu lebih kencang agar bisa mengejar mbak-mbak itu di depan. Niatnya mau memberi nasihat. Selama itu aku sibuk memikirkan kalimat apa yang akan aku sampaikan saat moment of truth itu datang, beberapa detik berharga saat aku bisa menyalip dia dan meneriakkan sesuatu. 


"Naik motornya yang bener, Mbak!"

"Lain kali kalau belok lihat-lihat!"

"Kalau salah minta maaf, Mbak!"

dan seterusnya...


Namun saat motorku kemudian sejajar dengan motornya, aku tidak mengatakan apa-apa. Aku kembali mengendarai motor dan langsung berbelok ke stasiun, tidak menengok lagi ke belakang.


Yang menahanku untuk meneriakkan kalimat-kalimat tadi adalah pertanyaan bahwa apakah niatku melakukannya benar-benar murni untuk mengharapkan kebaikan kepadanya, atau sebenarnya adalah pelampiasan dari rasa marahku semata? Karena kembali lagi ke bahasan di awal bahwa nasihat sendiri berarti sesuatu yang bersih dan murni dari kotoran-kotoran. Jika begitu, rasanya kalimat-kalimat tadi lebih tepat disebut umpatan daripada nasihat, karena dalam situasi itu aku ingin bilang bahwa aku benar dan dia salah, sehingga aku patut memberitahu seperti apa yang benar.

Ada rasa menyesal (sedikit), mengetahui bahwa mungkin dia pergi begitu saja tanpa mengetahui ada yang perlu diubah dari caranya mengendarai motor. Tapi kemudian aku cuma berdoa dalam hati untuknya, semoga semua baik-baik saja.

Karena refleksi supersingkat itu, pikiranku jadi melayang-melayang ke situasi di mana bisa jadi aku hanya menceramahi, memarahi, dan menghakimi seseorang alih-alih memberinya nasihat, berharap hanya kebaikan untuknya. Dalam proses ‘memberi nasihat’ selama ini, jangan-jangan orientasiku masih aku, aku dan aku. Untuk memberi makan egoku, agar aku dipandang lebih baik darinya. Untuk memvalidasi rasa sombong dalam diriku, bahwa aku benar dan dia salah. Atau sekadar mendapat kebaikan-kebaikan untuk diri pribadi di masa depan. Astaghfirullah, semoga Allah mengampuniku untuk segala niat-niat yang bengkok.

Untuk keluarga dan teman-temanku yang pernah dengan tulus memberi nasihat kepadaku, dan hanya mengharapkan kebaikan terjadi untukku, terima kasih banyak. Semoga Allah melipatgandakan kebaikan untuk kalian semua. Doakan aku agar bisa lebih lurus dalam memberi nasihat, saran, umpan balik, komentar, atau apapun itu namanya.

#30DWC #30dwcjilid40 #Day2


Komentar

Postingan populer dari blog ini

IELTS Test: Process Over Result

Buku Kehidupan Si Anak Rantau

Aku Akan Sibuk