Ke Sarai Bagian 3: Sebuah Kepasrahan
Cerita bagian ketiga ini pun dimulai sejak aku melangkahkan kaki di Kapal Cantika 9E dari Pelabuhan Seba menuju Pelabuhan Tenau. Setelah membenahi barang di basecamp sambil diiringi genjrengan gitar lagu Sampai Jumpa-nya Endank Soekamti yang menyahat hati, akupun diantar ke pelabuhan oleh teman-teman. Sepuluh hari yang terasa seperti sepuluh menit itu akan segera berakhir.
Melihat kapal yang dengan gagah menyandar di pelabuhan, badanku yang semenjak tadi rileks segera memasuki moda siaga: jantung berdetak lebih kencang, perut mulas-mulas dan overthinking memikirkan banyak hal. Hatiku mulai was-was membayangkan akan di atas kapal sendirian tanpa orang yang dikenal selama 12 jam (atau bahkan lebih). Tapi apa mau dibuat, this too shall pass. Sempat mencelos karena kehabisan tiket kamar VIP agar tidak harus tidur di barak terbuka, tapi berkat jaringan orang dalam anak-anak PM ini, akhirnya aku tetap dapat kamar VIP spesial dari nahkodanya! Tanpa tambahan biaya pula! Benar-benang the power of networking👍
Setelah prosesi menyanyi lagu Bagimu Negeri bersama-sama, akupun masuk ke kabin dan kapal mulai berjalan.
Awalnya di kamar VIP aku merasa riang gembira, karena tidak perlu khawatir jagain barang dan bisa punya privasi sendiri. Namun saat kapal mulai bergoyang-goyang dengan hebat aku merasa sangat takut karena benar-benar sendirian di kamar tertutup tanpa tahu apa yang terjadi di luar.
Pukul 10 malam aku merasa kapal bergoyang makin kencang hingga barang-barang di atas meja berjatuhan. Aku yang biasanya tahan mabuk selama perjalanan tapi yang ini sudah beda cerita. Sudah tidak tahu lagi berapa kali muntah dan berapa banyak tolak angin yang aku minum. Ditambah saat itu aku harus keluar dan berjalan mencari toilet. Dengan goncangan yang kuat itu, aku harus terus berpegangan pada apapun agar tidak terlempar ke laut. Sungguh sebuah pengalaman pertama bersusah payah berdiri di toilet agar tidak terlempar lempar menghantam tembok :')
Pukul 11 malam saat aku mulai bisa memaksaan diri tidur karena kepala yang rasanya mau pecah, aku dibangunkan oleh sebuah pengumuman mengagetkan bahwa kapal akan putar balik ke Pelabuhan Seba karena alasan emergensi. Aku sampai meyakinkan diri, "Hah? Ini aku mimpi apa beneran ya? Kok balik lagi? Apa karena ombak yang terlalu berbahaya?"
Setelah beberapa saat, aku akhirnya tahu dari sayup-sayup orang di luar kalau kapal harus kembali sandar karena salah satu penumpang sedang dalam kondisi kritis dan butuh penanganan medis sesegera mungkin. Meskipun super penasaran untuk tahu lebih banyak, dengan badanku yang lemas karena mabuk laut, aku memutuskan untuk tetap di dalam kamar sambil terus memanjatkan doa.
Dalam kondisi sendirian di kamar tertutup berukuran 2x2m, di atas kapal yang sedang terombang-ambingkan ombak angin timur, di tengah malam tanpa sinyal telepon maupun internet, yang aku bisa lakukan hanyalah memasrahkan diri kepada Sang Pemilik Kehidupan. Sebuah kepasrahan menerima apapun takdirNya di tengah ketidakberdayaan.
Pukul 01.00 dini hari, kapal sudah sampai lagi di Seba. Setelah mulai ada sinyal, aku coba menghubungi teman-teman PM jikalau harus kembali menginap tapi ternyata kapal langsung berangkat kembali setelah menurunkan salah satu penumpang yang sempat kritis. Tragisnya, penumpang tersebut menghembuskan napas terakhirnya sebelum kapal sampai di pelabuhan. Innalillahi wainnailaihi rojiun.
Kejadian di kapal Cantika 9E dari Pelabuhan Seba ke Tenau malam itu, jadi pengingat bahwa walau ada ratusan kepentingan berbeda di dalamnya, kita tetap berada di satu kapal yang sama dan sedang mengarungi lautan yang sama. Ratusan kepentingan itu menjadi tidak lebih penting saat kita harus putar arah demi menyelamatkan satu nyawa. Selama kapal putar arah kembali ke Seba dan berlayar kembali sampai di Tenau, tidak ada satupun dari ratusan penumpang bisa mencegahnya. Walau kejadian itu berarti mengulang ombak angin timur untuk kedua kalinya dan menunda jadwal ketibaan yang setengah hari lebih lama. Seolah kejadian seperti ini sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa di atas kapal, semua nyawa sama pentingnya. Dan aku jadi kembali merenungi tentang ajal. Sungguh tidak pernah ada yang tahu di mana dan seperti apa kita akan meninggal.
Setelah selesai menurunkan jenazah, kapal pun kembali berangkat.
Kapal yang sebelumnya dijadwalkan sampai pukul 7 pagi, akhirnya sampai pukul 13.00 di Pelabuhan Tenau, Kupang. Tanpa terpikirkan untuk menikmati sunrise kedua di tengah laut, aku cuma bisa tergolek lemah di atas tempat tidur. Sedikit gerakan saja bisa bikin kepala makin nyut-nyutan.
Di momen ini, salah satu alumni PM yang tinggal di Kupang datang mengamankan kondisiku yang sudah tidak karuan. Dengan sisa-sisa tenaga akhirnya aku berhasil keluar kapal dan bertemu dengannya yang langsung sigap membawaku pergi dari pelabuhan. Kondisiku alhamdulillah berangsur angsur membaik setelah minum teh panas dan makan soto, walau rasanya badan masih sempoyongan.
Setelah mulai kembali waras, atas dasar rekomendasi teman-teman PM, aku memutuskan menginap di Gedung LPMP di Kupang untuk 3 hari kedepan sambil mengurus tes PCR. Sayangnya kengerian lain harus aku hadapi kembali di sini 😀
Karena sedang pandemi, LPMP yang biasanya ramai dipakai untuk menginap, saat itu hanya dihuni oleh aku seorang. Memang fasilitas semuanya mewah dengan harga yang super murah, tapi aku tidak membayangkan akan tinggal sendirian di gedung 3 lantai di antara ratusan kamar kosong 😭
Selama menginap 3 hari 2 malam di LPMP, level kecemasanku meningkat. Tiap malam tidurku setengah terjaga agar kalau ada gangguan jin atau manusia aku bisa langsung ambil tindakan. Syukurnya sampai check out, tidak ada gangguan yang gimana gimana, meskipun setiap pukul 02.00 pagi LPMP jadi ramai dengan suara benda-benda bergeser. Entah itu karena angin atau makhluk lain, wallahu’alam. Bagiku, yang penting itu tidak mencelakakan.
Alhamdulillah perjalanan naik pesawat kembali ke Jakarta pun lancar sampai bertemu kembali dengan keluarga. Perjalanan panjang yang menguras energi dan emosi. Perjalanan tidak terlupakan bisa menjelajahi Rai Hawu sebagai Ina Mengi (panggilanku saat di Sarai) dengan segala pesona alam dan ceritanya.
Sampai sekarang masih suka geleng-geleng sendiri kalau teringat momen ngeri itu. Betapa tidak berdayanya aku saat menghadapi berbagai kondisi yang mencekam itu. Di saat kita tidak bisa lagi bergantung kepada siapapun, memang cuma Allah yang bisa kita harapkan. Semoga kedepannya aku tidak cuma menyertakan Allah di masa-masa genting dalam hidup, tapi kapanpun, di manapun dan mau seperti apapun keadaannya.

Komentar
Posting Komentar