Menyelami Diri
Keresahan akan identitas diri ini baru benar-benar aku rasakan saat memasuki usia 20-an. Mungkin karena prefrontal cortex di dalam otakku mulai berkembang dan aku mulai dilanda apa yang dinamakan Quarter Life Crisis. Hari-hariku sering ditutup dengan pertanyaan, “sebenarnya aku ini siapa? Kenapa aku melakukan apa yang aku lakukan?”
Setiap memperkenalkan diri, aku merasa tidak nyaman menyertakan embel-embel posisiku dalam pekerjaan atau riwayat sekolah atau afiliasi-afiliasi lainnya yang aku punya. Terasa begitu dangkal, artifisial dan sebagian diriku merasa tidak sepenuhnya terwakil dengan sebutan-sebutan itu. Di sisi lain, setiap dihadapkan dengan beberapa kondisi yang sulit, aku seringkali kebingungan menavigasi apa yang harus aku lakukan. Saat ada yang bilang, “Kembalikan saja pada apa tujuan hidupmu.” Aku makin bingung, “Memangnya tujuan hidupku itu apa?”
Dulu waktu SMA, aku dengan percaya diri bilang sudah punya tujuan hidup. Mau jadi orang sukses, kataku. Papan mimpiku waktu itu dipenuhi dengan gambar perguruan tinggi ternama, pekerjaan mapan, rumah dan mobil mewah, uang banyak, negara-negara yang ingin dikunjungi, pergi haji berkali-kali dan lalu ditutup dengan dua kata sakti: hidup bahagia.
Aku yang kemudian mulai melalui banyak hal dalam hidup, berani menantang pemikiranku sendiri, “apa iya hidupku ini mau aku habiskan untuk memenuhi ambisi-ambisi itu? Apa iya bahagia itu tujuan akhir hidup ini seperti akhir dari film-film yang sering aku tonton?”
Kegaduhan pikiran saat itu aku abadikan dalam sebuah puisi berjudul Mencari Aku. Walau ditulis tahun 2020, aku merasa puisi itu masih bisa menggambarkan apa yang aku rasakan hingga hari ini. Refleksi demi refleksi saat itu menuntunku pada sebuah kesadaran yang harus kuterima bahwa sebenarnya aku enggak kenal-kenal amat dengan diriku sendiri. Rasanya seperti sedang bermain petak umpet dengan ‘aku’ yang lain dan dia sudah lelah memanggil-manggil untuk ditemukan. Kalau waktu itu aku menulis, "Untuk menemukannya, kau harus berani menyelam, dalam sekali sampai ke dasar," maka bisa kubilang saat ini aku sedang proses menyelam. Walau belum yakin apa aku sudah sampai ke dasarnya.
Proses menyelam ini nyatanya menyenangkan juga. Setiap menemukan sebuah pemahaman baru, rasanya makin bisa menemukan si ‘aku’ tadi. Aha momen pertama yang aku dapat adalah ketika mendengar tentang Uqdatul Kubro. Secara bahasa, Uqdatul Kubro berarti simpul kehidupan yang besar. Seperti layaknya simpul, uqdatul kubro ini mengikat kita pada tiga pertanyaan besar yang harus direnungi demi punya landasan kehidupan yang kokoh. Aku pun baru tahu bahwa munculnya ilmu filsafat sejatinya untuk mengurai simpul kehidupan ini. Tiga pertanyaan besar itu: 1) dari manakah manusia dan kehidupan ini? 2) untuk apa manusia dan kehidupan ini diciptakan? 3) Akan kemanakah manusia dan kehidupan ini?
Seringnya kita, termasuk aku, fokus memikirkan pertanyaan ketiga saja: mau kemana hidup ini dibawa? Padahal ada dua pertanyaan sebelumnya yang harus dijawab terlebih dulu. Untuk pertanyaan pertama, ternyata Allah SWT sudah memberi kita bocoran jawabannya, akunya saja yang selama ini enggak mau mencari 😢. Dalam salah satu ayat Al Quran, QS Al Hashr: 19 Allah berfirman bahwa siapa saja yang lupa kepada Tuhannya, Ia akan menjadikannya lupa dengan dirinya sendiri. Astaghfirullah. Pantas saja selama ini aku bingung dengan diriku sendiri, karena seringnya aku lupa sama Allah SWT.
Hal ini juga dibahas oleh Coach Rene Suhardono saat mengisi di Pelatnas FIM 24, beliau bilang, “Yang paling mengenal diri kita bukanlah diri kita sendiri tapi Allah SWT. Maka bertanyalah kepada Allah SWT.”
Selama ini sering arogan, mencari jawaban pertanyaan ini dengan mengandalkan diri sendiri. Sibuk ikut tes kepribadian ini itu, lalu meraba-raba seberapa cocok dengan diri kita. Padahal mah harusnya mintanya sama Allah, dan jadikan tes kepribadian itu sebagai salah satu ikhtiyar untuk menemukan jawaban itu. Ada artikel menarik yang aku baca terkait bagaimana Allah SWT membuat kita lupa akan diri kita saat kita melupakanNya: Forgetting one’s self means forgetting what is really in favour of him and what is really against him. It means confusing what is for his benefit and what is for his harm. It means mixing up what is to get and what is to abstain. Ini menakutkan sih. Bagaimana kalau kita udah enggak bisa bedain lagi mana yang baik dan mana yang enggak baik untuk diri kita?
Proses menyelami diri ini pun masih terus berlanjut, karena sudah barang tentu enggak mungkin selesai dalam satu malam. Apalagi kitapun makhluk yang dinamis dan terus berubah. Maka aku bertekad untuk bersabar dan berprasangka baik saja terus kepada Allah. Selama pertanyaan-pertanyaan dasar ini tidak berhenti direnungi dan tidak lupa untuk selalu melibatkan Allah, bisa jadi bukan jawabannya lagi yang penting, melaikan prosesnya itu sendiri. Wallahu a'lam.
Komentar
Posting Komentar