Tempat Singgah yang Indah






“Ketika tiba saat PERPISAHAN, janganlah kalian berduka, sebab apa yang kalian kasihi darinyamungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan, seperti gunung agung yang nampak lebih agung dari pada padang dan daratan.” 
–Kahlil Gibran-



Ketika diminta merajut kembali memori setahun lalu maka jawaban setiap kita pasti berbeda. Ada yang akan menjawab dengan menggebu-gebu dengan senyum tak lepas dari raut wajah, ada pula yang akan menjawab dengan terbata-bata karena samar-samar memori itu telah hilang. Pun ada yang hanya diam, cukup mengingatnya dalam kalbu.

Toh tiap kita berhak punya pemaknaan yang berbeda bukan pada memori setahun kebelakang? Entah benar atau tidak, entah mau atau tidak, memori setahun kebelakang itu sedikit banyak merubah kita. Proses berkenalan, mengenal satu sama lain, menyemat senyum di bibir masing-masing ketika saling bertegur sapa, berlontar tawa ketika dimensi waktu dan tempat antara kita bertemu, proses panjang yang akhirnya sukses mengubah Aku, Kamu, menjadi kata bernama kita. 

Kekeluargaan, persahabatan, atau mungkin hanya sekedar pertemanan diantara kita, pada dasarnya merupakan proses belajar. Belajar sabar antara sesama, belajar mamaafkan dengan banyak pemakluman, belajar untuk saling menanamkan semangat satu sama lain hingga akhirnya tanpa kita sadari rasa peduli, sayang, dan rindu akan hadir tanpa diminta. 

Terima kasih untuk senyum ikhlasnya, terima kasih atas tulusnya doa-doa yang sempat terucap, terima kasih atas kepercayaan dan pemakluman sepanjang waktu. Demisioner ini kalau boleh kuimajinasikan adalah melepas setiap kita dari darmaga ini, dari pulau tempat singgah kita, untuk kembali berlayar dengan biduk kita masing-masing. Selamat berlayar kembali kawan, selamat jelajahi tempat persinggahan baru dengan nahkoda dan tujuan pelayaran baru, setahun singgah, setahun yang mengilhami, setahun di tempah yang indah. 

Karena hakikatnya orang beruntung adalah orang yang dapat mengambil manfaat dari setiap apa yang dilaluinya... J



Komentar