Menjadi Bidadari-Bidadari Penghias Surga, Tetap Elok dan Terjaga
“Kaum laki-laki
itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan
sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena
mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah
yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika
suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).
Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka
nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di
tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka
janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha
Besar.” (Q.S. An Nisa’:34)
Sudah menjadi kewajiban kita untuk mengimani perbedaan
antara laki-laki dan wanita. Secara jelas, Allah telah menegaskan bahwa
laki-laki berbeda dengan wanita, terutama dalam hal fadhail atau
keutamaan-keutamaan diri serta dalam hal tugasnya sebagai khalifah di muka
bumi. Allah menciptakan laki-laki dan wanita berbeda agar keduanya dapat hidup
saling melengkapi. Laki-laki diberi kemampuan fisik dan kemampuan untuk
mengatur sesuatu (jiwa leadership) yang lebih dibandingkan wanita. Oleh
karena itu tugas mereka secara umum berada di luar rumah untuk menafkahi
keluarganya yang berada di dalam rumah.
Sedangkan wanita menurut ciptaan, watak, dan fisiknya
lebih lemah dari laki-laki karena ia harus berurusan dengan masalah haid,
kehamilan, melahirkan, menyusui bayi, mengurus bayi, serta masalah pendidikan
anak-anaknya. Karena inilah, wanita diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam. Ia
merupakan bagian darinya, yang selalu mengikutinya sekaligus sebagai kesenangan
baginya. Sedangkan laki-laki diciptakan untuk memenuhi kebutuhannya serta
menjaganya.
Sekarang mari kita simak kewajiban seorang wanita
khususnya sebagai seorang wanita yang telah bersuami. Dari Ayat Al Qur’an di
atas, Allah menyuruh wanita untuk menjaga dirinya ketika suaminya tidak di
rumah. Oleh sebab itu, wanita lebih dianjurkan untuk beraktifitas di dalam
rumah karena dengan berada di dalam rumah, seorang wanita akan terhindar dari
kejahatan-kejahatan yang ada di luar rumah.
Namun, yakinlah bahwa Allah juga tidak bermaksud
mengekang potensi yang ada pada diri seorang wanita. Ada banyak contoh
sahabat-sahabat wanita Rosulullah yang tetap aktif mengembangkan potensi
dirinya tanpa harus mengabaikan kewajibannya sebagai seorang wanita khususnya
sebagai seorang istri. Khadijah contohnya, walaupun dirinya adalah istri
Rosulullah SAW, tetapi beliau tetap bekerja dan bahkan beliau ikhlas
mengorbankan seluruh hartanya untuk kepentingan dakwah suaminya, Rosulullah
SAW. Beliau adalah wanita yang sukses
dalam perniagaan, seorang saudagar wanita terhormat dan kaya raya. Pada masa
jahiliyah beliau dipanggil Ath Thaharoh (wanita suci) karena ia senantiasa
menjaga kehormatan dan kesucian dirinya.
Orang-orang Quraisy menyebutnya
sebagai pemimpin wanita Quraisy. Contoh lainnya adalah Rufayda binti Sa'ad. Selain
dalam bidang agama Rufayda juga
berkiprah di bidang ilmu pengetahuan. Ia dianggap sebagai perawat pertama dalam
lintasan sejarah Islam, yang hidup pada zaman Nabi Muhammad. Dalam Perang Badar
pada 13 Maret 624 Hijriyah, ia bertugas merawat mereka yang terluka dan
mengurus personel yang meninggal dunia.
Terlepas dari itu semua, wanita Islam tetap harus ingat
hakikat dirinya dengan tetap memperjuangkan citra dan hijabnya. Ingat, Allah
telah menyediakan ladang amal yang melimpah bagi para wanita Islam terutama di
dalam rumah. Segala bentuk aktifitas para wanita, sekecil apapun itu, seperti
menyediakan makan untuk suami, apabila diniatkan sebagai sarana mendekatkan
diri kepadaNya, insya Allah, itu akan dinilai sangat tinggi dihadapanNya. Oleh karena itu, sebelum beranjak keluar
rumah untuk mengembangkan potensi yang telah diberikan Allah kepadanya,
alangkah baiknya apabila seorang wanita ingat untuk menyelesaikan tugasnya di
dalam rumah dengan rasa ikhlas. Sehingga suami-suami kita kelak ridha dengan
apa yang kita lakukan karena istri yang ketika meninggal dan suaminya ridha
padanya, maka pintu-pintu surga dibukakan lebar-lebar baginya.
Semoga saya dan sahabat-sahabat, para wanita Islam
senantiasa diberi kemudahan dalam menegakkan setiap syariatNya dan senantiasa
istiqamah dalam menjaga kesucian diri. Alangkah bahagianya kita apabila setiap
langkah kita di dunia ini membawa kita menjadi bidadari-bidadari yang elok dan
terjaga yang menghiasi surga-surgaNya. Amin.
Komentar
Posting Komentar