Kematian


Sejatinya sebuah pertemuan akan selalu diiringi perpisahan. Dan begitu pula dengan setiap kehidupan pasti diiringi kematian. Bagi sebagian orang kematian menjadi sebuah momen yang menakutkan, “sudah, jangan ngomong tentang kematian.” Celetuk orang-orang itu. Bagi mereka kematian merupakan sesuatu yang memberikan suasana ngeri untuk dibicarakan bahkan dibayangkan. 

Namun bagi sebagian orang yang lain, yang sangat sedikit jumlahnya, mereka sangat mengerti hakikat kematian. Mereka yakin bahwa itu adalah gerbang menuju kehidupan yang lebih kekal, lebih nyata, dan lebih lama dari dunia ini. Bagi orang-orang terpilih itu (begitu aku menyebutnya), kematian bukanlah sesuatu yang tabu atau mengerikan untuk dibicarakan namun justru perlu diingat dan dicamkan dalam hati yang terdalam. Mereka yakin akan satu fakta tak terbantahkan: “setiap yang hidup, aku, kamu, pasti akan mengalami momen ini, kematian.” 

Lalu Aku termasuk orang yang mana? Aku belum bisa masuk pada kategori orang terpilih itu. Membicarakan kematian menjadi hal yang jarang untuk dilakukan olehku. Aku masih takut menghadapi kematian. Bahkan, Aku masih tak kuasa membayangkan datangnya kematian pada orang-orang terdekatku.

Satu-satunya kematian yang Aku lihat adalah kematian nenekku. Sebetulnya Aku tak benar-benar melihat dengan mata kepalaku sendiri. Bahkan Aku baru tahu 1 jam setelahnya. Namun Aku merasakan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang disayang. Setelah kejadian itu, sampai saat inipun Aku masih trauma dengan deringan telpon tengah malam. Saat itu aku masih asrama, dan tengah malam itu aku habiskan dengan menangis sampai subuh tiba.

Mungkin yang orang bilang itu benar bahwa beberapa orang bisa merasakan bahwa sebentar lagi dirinya akan mati. Mungkin kasusnya sama dengan nenekku. Hari itu, hari aku berangkat lagi menuju Bogor, adalah hari terakhirku melihat Beliau. Tidak seperti biasanya, pamitanku pada Beliau menjadi lebih lama dan berarti. Beliau mendekapku dengan kuat kemudian menangis. 

Kata Beliau Aku harus jaga diri baik-baik, hati-hati di tanah rantau, jangan terlalu terbebani dengan masalah yang ada. Beliau menangis lagi, mengatakan kasihan padaku harus menanggung banyak masalah di tempat yang jauh, sendirian. Aku yang tak tahu itu adalah sebuah perpisahan, hanya membalas dengan senyuman. Mengangguk kemudian mencium tangannya. Aku tak pernah merasakan bahwa itu tanda perpisahan walaupun sebenarnya aku merasakan ada yang sedikit aneh. Iya aneh karena orang yang langsung Aku rindukan ketika di kereta menuju bogor adalah nenekku, bukan Ibuku.

Beliau pergi terlalu cepat, tak sempat melihat kakakku menikah. Tak sempat melihat cicitnya lahir. Bahkan tak sempat tahu siapa calon suami kakakku dulu. Aku pun tak sempat menceritakan setiap pencapaianku sekarang ini. Dulu Beliau senang sekali saat aku menceritakan pengalaman pertamaku danus donat di kampus dan dapat menghasilkan uang. Ah, benar-benar terlalu cepat meninggalkan kami semua.

Aku tak yakin apa sebenarnya yang terjadi ketika kita bermimpi mengenai sesorang yang telah meninggal. Benarkah Beliau yang hadir itu? Entahlah, tapi yang jelas ketika Aku merindukan Beliau, Beliau akan hadir dalam mimpi. Mimpi yang nyata sampai kukira Beliau masih ada. “Jangan menunda shalat, kematian akan datang tiba-tiba.” Begitu pesannya dalam satu mimpiku. Rasanya beliau masih ada, saat aku pulang kampung, untuk sekian detik menuju halaman rumah, Aku masih berpikir akan bertemu dan melihat Beliau. Tempat Beliau duduk, tempat Beliau shalat, pakaian Beliau, tempat Beliau tidur, gaung canda Beliau denganku dan adik-adikku, bayang Beliau yang tiba-tiba menina bobokkanku di kamar, semuanya masih sama. Tidak ada yang berubah rasanya. Sampai aku tersadar Aku tak bisa melihat lagi wajahnya dan mencium tangannya. Ramadhan ini sekali lagi Beliau tak di sini. Betapa kematian menjadi batas antara kami...

Membayangkan kematian memang tidak mudah. Aku pun mungkin tidak berani memikirkannya jikalau Aku tak dua memimpikannya. Sudah lama sebenarnya tapi entah kenapa Aku jadi ingin mengingatnya. Mimpi yang menggambarkan datangnya kematian pada diriku sendiri. Dan hal yang membuatku tidak tahan dengan mimpiku adalah ketika melihat orang-orang terdekatku menangis atas kepergianku. Ingin rasanya Aku memeluk mereka dan berkata, “tolong jangan tangisi aku, agar aku bisa tenang.” Begitukah perasaan orang yang mati? Tak akan tenang bila orang yang ditinggalkan sulit untuk mengikhlaskan. Entahlah, Allahu a’lam. Allah yang Maha Tahu.

Pada akhirnya fakta yang harus kita terima adalah setiap orang, cepat atau lambat pasti akan mati. Kembali ke sisi Sang Pencipta. Mari perbanyak mengingat kematian, agar senantiasa kita ingat bahwa kematian hanya sekali dan tidak bisa diulang lagi bila ternyata kita buruk dalam menghadapi kematian itu. Dengan begini kita pun juga akan lebih ikhlas bila melihat kematian di depan kita, kematian yang menjemput orang-orang terdekat kita.


“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S Luqman: 34)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IELTS Test: Process Over Result

Buku Kehidupan Si Anak Rantau

Aku Akan Sibuk