Di Balik Kata Mahasiswa


Akhir-akhir ini, kehidupan kampusku bisa dibilang sangat klasikal. Sampai-sampai, semua yang dilakukan layaknya suatu kebiasaan yang tidak membutuhkan otak, yah karena semua itu terjadi secara spontan tanpa otak yang perlu berfikir bagaimana menjalankannya. Bangun subuh, mandi, shalat, makan, berangkat kuliah pukul tujuh, praktikum, lari-larian ke lab, terburu-buru mengejar deadline laporan, pre-lab, dan raker, pulang di sore hari disambung dengan kerja kelompok atau rapat sampai jauh malam kemudian ketiduran setelah sampai di tempat kos. Terbangunkan oleh kokok ayam di pagi hari? Kemudian gelagapan mengejar deadline tugas yang harus dikumpulkan hari itu juga? Tidur di kelas karena terlalu capai alasannya, bertumpuk-tumpuk di korfat mengerjakan laporan dari sumber yang sama?

Jenuh atau acuh, entahlah mungkin lebih tepatnya rasa terjebak dengan zona nyaman ini. Sampai terkadang di sela-sela lamunan terbersit sebuah pertanyaan, “Apa dan untuk apa sebenarnya semua  ini?”

Semoga, kuliah hari ini menjadi jawabnya...

Hari ini seperti selasa yang biasa, hari yang penuh dengan praktikum. Tapi Aku bersyukur karena hari ini kelas kami kedatangan “tamu”. Sore tadi seorang laboran yang tadinya hanya kami kenal sebatas nama diminta mengisi praktikum kami mengenai penetrasi panas pada makanan kaleng. Sejujurnya Aku pun sudah tidak tahan melawan kantuk mendengarkan penjelasan dosen kami sebelumnya namun pertanyaan laboran tersebut membuatku tersentak dari kantukku.  “Ada yang tahu kenapa kita harus belajar ini?” tanyanya menggantung di langit-langit kelas kami. Seperti biasa, kami hanya diam sampai Sang Bapak mengulangi pertanyaannya kembali. Lagi, seperti biasa, aku hanya merapal jawabanku di bibir, “untuk mengetahui T dan t terbaik yang nantinya penting untuk pertimbangan perlakuan sterilisasi produk”, tanpa mengizinkan siapapun mendengarnya. Pertanyaan-pertanyaan dasar lainnya pun mengikuti, yang kami tanggapi setengah hati. Diantara tidak tahu, tidak mau, malu, atau bahkan tidak mau tau. Lagi-lagi aku menggeleng karena sifat pengecutku.

Tiba-tiba sebuah pertanyaan membuat bulu kudukku berdiri, “Yang tahu silakan tunjuk tangan setinggi-tingginya, Apa tujuan Tuhan menciptakan kalian di muka bumi ini?”

Aku menjawab lirih, “ya untuk beribadah kepada Nya Pak.”

Bapak kembali mengulangi pertanyaan sampai beliau berkata, “Tidak diciptakan seorang manusia kecuali menjadi rahmat untuk seluruh alam.”

‘Rahmatan lil alamin?” asingkah aku dengan istilah itu? Tidak sama sekali seharusnya karena begitulah sepatutnya seorang muslim layaknya seorang Muhammad yang berjuang menjadi rahmat seluruh alam selama hidupnya. Ya, aku tau betul itu.
Lalu apa yang salah dengan hati ini? Kenapa tiba-tiba hati ini mendadak mendesir? Tahukah kawan arti dibalik istilah ini? Rahmatan lil alamin berarti menjadikan kita sebagai seorang yang dinanti-nanti perkataan dan perbuatannya, ditunggu nasihatnya, dirindukan kehadirannya, didengarkan nasihatnya. Seseorang yang membawa rahmat, kebaikan, dan kasih sayang untuk orang lain. Di mana tidak ada yang sedih apabila ada kita, di mana tidak ada yang kelaparan selagi ada kita...
Bulu kudukku merinding. Betapa masih jauhnya diri ini dari kriteria tersebut. Apakah dengan kehadiran kita orang lain menjadi bahagia? Atau biasa saja? Atau malah sebaliknya mereka menjadi terganggu? Jawabannya cukup di hati yang tahu segalanya.

Tamparan pertama ternyata tidak cukup untukku. Kembali Sang Bapak bertanya, “Ada yang tahu kenapa Tuhan menakdirkan kalian di jurusan teknologi pangan IPB dan bukan yang lain?”

Kenapa memang inilah jalan yang ditakdirkan, karena memang inilah ladang yang Tuhan sediakan untuk kita agar menjadi manusia yang Rahmatan lil Alamin. “ketika kamu harus menjalani sesuatu yang bukan pilihanmu, maka jangan protes dan mengeluh. Jalani, syukuri, dan kenali lebih jauh karena itulah jalan terbaik untukmu, agar kamu menjadi lebih baik dan agar kamu tidak tersiksa dua kali.” Tuhan punya caranya sendiri untuk mengajarkan sesuatu pada hambaNya, aku lagi-lagi mengangguk dalam, meresapi nasihat yang sangat pas rasanya untukku saat ini.
Sang Bapak kembali meneruskan. Ternyata jurus-jurus tadi belum cukup, kembali sang Bapak berkata, sekarang pertanyaan yang tidak hanya menampar tetapi menusuk ke hati, dalam sekali sampai membuatku nyeri. “Kalian tahu apa itu mahasiswa?” aku semakin menunduk, betapa beratnya arti kata ini. 

Mahasiswa berarti derajat paling tinggi untuk seorang siswa. Keren sih, tapi banyak amanah yang sebenarnya harus diemban. “Kalau bukan karena pajak, mungkin tidak lebih dari setengah kelas ini yang bisa jadi mahasiswa. Pajak dari mulai orang yang berkedudukan tinggi dan gaji banyak sampai para tukang becak yang bahkan mungkin anaknya sendiri nggak bisa sekolah. Ingat, setiap tingkah laku kalian di sini, di kampus ini berbicara mengenai uang rakyat. Tidak pantaslah kalian pongah dan sombong karena setiap pengajaran yang kalian dapat, ilmu yang kalian nikmati, fasilitas yang kalian gunakan adalah jerih payah orang lain yang bahkan mungkin tidak seberuntung kalian. Lihat di Bara, berapa warung makan yang sudah standar keamanan pangan? Kalian bukannya tidak tahu kan? Tapi kenapa kalian tidak bergerak? Kalau begini siapa yang salah? Mereka? Bukanlah, tapi kalian sebagai seseorang yang lebih tahu dari mereka, yang sudah belajar, yang dekat dan melihat sendiri keadaan itu. Lebih-lebih saya, Saya yang akan lebih berdosa dari kalian karena saya yang mengajari kalian.” Nyeri banget ini hati, mendesir dan berdenyut-denyut tidak karuan. Aku kalah telak, aku berasa hina dina (versi Sandy R ITP 48).

Pelajaran penetrasi panas dan proses termal kali ini pun akhirnya usai setelah Sang Bapak menanyakan, “Saya sebagai laboran punya prinsip, Saya hanya akan berbagi ilmu untuk mahasiswa yang mau berkomitmen untuk jujur, Saya tidak mau berbagi ilmu kepada mahasiswa yang jelas-jelas tidak mempunyai kesungguhan untuk menjadi lebih baik. Jadi, siapkah kalian untuk berjanji menjadi mahasiswa yang jujur mulai saat ini?”

Aku dan semua temanku ragu, bikin laporan aja masih nyontek master, nyontek temen, berat sekali rasanya untuk hanya sekedar mengangkat tangan dan berjanji. Tidak untuk sang Bapak, tapi untuk diri sendiri. . .


Seusai kelas, petuah-petuah tadi memenuhi kepalaku, antara merasa sedih, takut, bersalah, dan hina... well, terbukti bahwa kata “mahasiswa” tidak hanya sebuah title yang bisa dengan bangga disandang... J

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IELTS Test: Process Over Result

Buku Kehidupan Si Anak Rantau

Aku Akan Sibuk