Malu Menerimanya
Bagi sebagian orang, mimpi tak ubahnya sebuah bintang yang berkelap-kelip nun jauh di sana. Dia indah sekali dipandang, menyilaukan mata, menjadi sumber energi untuk kehidupan jiwanya, namun bukan berarti mustahil untuk membawanya ke bumi, jika kamu mau. Itulah kenapa bahwa ada sebagian yang percaya bahwa mimpi tidak sejauh yang orang-orang pikir.
Dan Salah satu dari sebagian orang itu adalah dia. Dia menyebut perjalanan ini sebagai perjalanan membumikan mimpi. “Mimpimu itu tak akan sampai di bumi dan hanya menggantung di atas langit sana bila tak ada usahamu membawanya ke bumi,” katanya.
Maka kamu akan bertanya Apakah akan sulit? Tentu saja. Mungkin beberapa di antara kamu setuju denganku tentang ini.
Hakikatnya hanya ada dua hal penting yang penting dilakukan untuk menjemput mimpimu itu. Satu: kau harus berani mendekat pada mimpimu. Jauh memang, panas pula, belum lagi banyak badai awan dan tekanan yang mungkin bisa saja menghentikan langkahmu. Dua yang tidak kalah penting, setelah kau sampai di depan mimpi jangan lupa untuk meminta izin kepada pemilik langit untuk memba mimpimu ke bumi. Haruskah keduanya? Absolutely yes! Jangan kira pemilik langit akan Cuma-Cuma menjatuhkan mimpimu ke bumi. Yang ada mimpimu akan hancur berkeping-keping. Jangan pula kau kira setelah kau berada tepat di depan matamu, kau bisa dengan leluasa membawanya ke bumi tanpa meminta izinNya. Yang ada kau hanya bisa menangis meratapinya namun tak kuasa membawanya. Apa akan sulit? Tentu saja sulit. Apalagi kalau mimpimu sangat tinggi. Maka barangkali untuk sampai di depan mimpimu saja kamu harus berkali-kali jatuh kembali ke bumi...
Dia bukanlah orang yang begitu beruntung yang ketika mencoba sekali langsung berhasil. Sungguh tidak. Sekitar 6 bulan lalu, puncaknya Dia benci dengan usahanya. Meragukan semua teori-teori tentang “Yang berusaha pasti berhasil” atau “Yang bersabar akan bahagia”. Lebih parah, bahkan dulu Dia meragukan apakah Tuhan benar-benar mendengar doanya? Usaha yang tanpa hasil. Berkali-kali dan Dia sudah tidak ingat berapa kali gagal. Tapi, syukurnya Dia tidak berhenti enam bulan yang lalu. Dia beruntung tidak menyerah sampai di titik itu karena ternyata Tuhan benar-benar telah menyiapkan kado istimewa yang sungguh tak ternilai harganya. Tidak hanya satu, tapi banyak. Sampai Dia malu menerimanya.
Siapa sangka, anak kampung , modal pas pasan, yang belum pernah tau rasanya naik pesawat dan menginjakkan kaki di pulau selain Jawa, akhirnya menginjakkan kaki di pulau lain, negara lain, jauh melampaui apa yang Dia impikan saat itu: naik pesawat. Tuhan, dengan caraNya yang tidak masuk di akal, membawanya ke Negeri Jiran, Negeri Gajah Putih, dan Negeri Kangguru sana. Mengizinkannya mengenal orang- orang hebat di berbagai belaha n dunia, mengenal sahabat di Malaysia, Singapore, Thailand, Mianmar, China, Jepang, US, UK, Brazil, Mexico, Kanada, Russia, Argentina, Tunisia, Korea, France, Italy, India, Egypt, Saudi Arabia, Pakistan, Afganistan, Greec, Jerman, Turkey, Australia, Afrika Selatan.Mengizinkannya mengenal orang-orang hebat di berbagai belahan dunia, membuatnya menangis haru karena saking bangganya mewakili negaranya di antara negara digdaya di G20. Dan lebih dari itu semua, Dia mendapatkan semuanya dengan cuma-cuma, alias gratis.
Itulah kenapa terkadang, Dia menangis di tengah malam, malu menerima semua ini. Sekarang pun, Tuhan tidak pernah berhenti membuatnya tersenyum, semua keindahan dan rahmatNya mengikutinya sampai di sini...
Chiang Rai, 8 Agustus 2014
Maka kamu akan bertanya Apakah akan sulit? Tentu saja. Mungkin beberapa di antara kamu setuju denganku tentang ini.
Hakikatnya hanya ada dua hal penting yang penting dilakukan untuk menjemput mimpimu itu. Satu: kau harus berani mendekat pada mimpimu. Jauh memang, panas pula, belum lagi banyak badai awan dan tekanan yang mungkin bisa saja menghentikan langkahmu. Dua yang tidak kalah penting, setelah kau sampai di depan mimpi jangan lupa untuk meminta izin kepada pemilik langit untuk memba mimpimu ke bumi. Haruskah keduanya? Absolutely yes! Jangan kira pemilik langit akan Cuma-Cuma menjatuhkan mimpimu ke bumi. Yang ada mimpimu akan hancur berkeping-keping. Jangan pula kau kira setelah kau berada tepat di depan matamu, kau bisa dengan leluasa membawanya ke bumi tanpa meminta izinNya. Yang ada kau hanya bisa menangis meratapinya namun tak kuasa membawanya. Apa akan sulit? Tentu saja sulit. Apalagi kalau mimpimu sangat tinggi. Maka barangkali untuk sampai di depan mimpimu saja kamu harus berkali-kali jatuh kembali ke bumi...
Dia bukanlah orang yang begitu beruntung yang ketika mencoba sekali langsung berhasil. Sungguh tidak. Sekitar 6 bulan lalu, puncaknya Dia benci dengan usahanya. Meragukan semua teori-teori tentang “Yang berusaha pasti berhasil” atau “Yang bersabar akan bahagia”. Lebih parah, bahkan dulu Dia meragukan apakah Tuhan benar-benar mendengar doanya? Usaha yang tanpa hasil. Berkali-kali dan Dia sudah tidak ingat berapa kali gagal. Tapi, syukurnya Dia tidak berhenti enam bulan yang lalu. Dia beruntung tidak menyerah sampai di titik itu karena ternyata Tuhan benar-benar telah menyiapkan kado istimewa yang sungguh tak ternilai harganya. Tidak hanya satu, tapi banyak. Sampai Dia malu menerimanya.
Siapa sangka, anak kampung , modal pas pasan, yang belum pernah tau rasanya naik pesawat dan menginjakkan kaki di pulau selain Jawa, akhirnya menginjakkan kaki di pulau lain, negara lain, jauh melampaui apa yang Dia impikan saat itu: naik pesawat. Tuhan, dengan caraNya yang tidak masuk di akal, membawanya ke Negeri Jiran, Negeri Gajah Putih, dan Negeri Kangguru sana. Mengizinkannya mengenal orang-
Itulah kenapa terkadang, Dia menangis di tengah malam, malu menerima semua ini. Sekarang pun, Tuhan tidak pernah berhenti membuatnya tersenyum, semua keindahan dan rahmatNya mengikutinya sampai di sini...
Chiang Rai, 8 Agustus 2014


Komentar
Posting Komentar