Melangkah


Tak satupun dari kita yang diam di tempat. Kau dan Aku yang tadinya meragu kini mulai menciptakan langkah. Berpindah satu petak pun tak apa, karena langkah tetaplah berbilang dari titik nolmu. Kini Aku di tengah upayaku, seperti saat-saat sebelum ini, sendirian.

Aku sekarang sedang melangkah sediri, kadang kulihat kau ada beberapa langkah di depanku, lalu kupercepat langkah agar setidaknya aku sejajar denganmu. Agar kita pun bisa berdiskusi tanpa jarak. Namun nyatanya itu tak bertahan lama. Rasanya kini langkahmu kian cepat dan aku di belakangmu. Ah, mungkin hanya sesekali rasanya aku bisa melangkah di depanmu.

Tak apa, aku selalu menikmati segalanya. Masa-masa kita saling menciptakan langkah. Kadang melaju kadang melambat. Bukan untuk saling menyombongkan diri dan menjatuhkan yang lain, tapi untuk saling mengingatkan. Kau tidak tahu? Mengingatkan kalau kau dan aku harus sama-sama melangkah, mungkin sekarang dengan jalan yang berbeda, tapi kita sama-sama tahu jalan ini berujung yang sama.

Tidak apa, sungguh. Sendirian membuatku terlalu khawatir untuk merasa takut. Sendirian menciptakan senyum dan tawa baru. Baru dan jujur, bukan tawa-tawa yang hambar dan terkesan begitu-begitu saja. Sendirian juga mengajariku berbagai makna dengan orang baru. Sendirian itu kadang menyenangkan.

Hanya Ada aku dan bayangku.Disaksikan Tuhanku.

Siapa bilang sendiri itu menyiksa. Sendiri itu tentang Aku yang berbicara sendu dengan bayangku, yang disaksikan oleh Tuhanku. “Kenapa bayangmu? Bukan aku?” Tanyamu pelan.

Nanti, kalau saatnya tiba, bayangku dan bayangmu akan melebur menjadi kita.

Kau tersenyum, “nanti itu kapan?”

Aku tak tahu, aku sudah pernah menanyakannya pada bayanganku, tapi diapun tak tahu.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IELTS Test: Process Over Result

Buku Kehidupan Si Anak Rantau

Aku Akan Sibuk