Memory


Waktu dengan pasti berjalan, hingga akhirnya sekarang, masing-masing dari kita saling menikmati kesibukan masing-masing. Namun entah tenaga apa yang membuatku tiba-tiba menemukan kembali memori tentangmu yang sudah lama terselip. Dan akupun tiba-tiba terlempar ke dimensi ketika aku mengenalmu.

Sudah lama rasanya kita tak berjumpa tapi memori ini rasanya masih segar di ingatan. Dimensi memang rumit untuk dipelajari tapi bisa begitu mudah direngkuh dengan kuasaNya.

Waktu itu abu-abunya langit menggantung rendah. Saling berkompromi siap menumpahkan air hujan ke bumi. Aku, kamu, dan teman-teman kita dengan gaduh keluar kelas. Banyak di antara mereka mengeluh karena hujan tiba-tiba mengguyur tepat ketika kelas usai. Aku merogoh ranselku dan mendapati aku tidak membawa jas hujan. Dengan putus asa aku hanya duduk sendirian di depan kelas, menunggu hujan reda di penghujung sore ini. Ku tengok jam tanganku, sebentar lagi maghrib menjelang dan hari mulai gelap. Rasa was-was dan takut diam-diam merayap ketika ku tengok sekelilingku yang kosong, tidak ada siapapun. Tapi betapa leganya diriku setelah tiba-tiba kau keluar dari kelas dan duduk di sampingku. “Hujannya awet banget.” Aku hanya menjawab, “kenapa nggak pulang?”. Dan sampai sekarangpun aku masih ingat, “Nggak bawa jas hujan.” Beuh, kamu kira aku percaya? Jelas-jelas aku lihat jas hujanmu ada di ransel. Walaupun kau berbohong, terima kasih sudah menemaniku sampai hujan ini reda...

Suatu hari yang lain, suatu hal membuatku, kamu, dan ketiga teman kita harus pulang larut malam. Aku ngeri membayangkan diriku sendirian melewati jalanan yang jauh, gelap, dan senyap. Melihat ekspresiku, membuat salah seorang teman kita memintamu menemaniku karena jalan rumah kita yang searah. Kau dengan enteng menjawab, “Ogah, rumah Ayen kan jauh banget. Udah capek nih. Lagian nggak akan ada yang gangguin Dia kok.” Apa kamu bilang? Oh My...Aku tidak habis pikir ada orang sejahat dirimu. Aku uring-uringan mengambil motor sambil menatapmu sebal.

Hey, siapa juga yang butuh ditemani? Arrrgh kau jahat! Di pertengahan jalan, aku mulai merinding, membayangkan hal-hal negatif yang mungkin terjadi. Ku lirik kaca spionku dan hey, aku melihatmu di belakang, santai dan aneh sekali berpura-pura tidak mengindahkanku yang ada di depan. Kau tau? Aku tersenyum diam-diam di balik helmku. Walaupun paginya kau hanya bilang, “Apaan? Aku ada urusan di daerah sana kok, nggak maksud nemenin.” Ah, walaupun mungkin kau tidak berbohong, aku tetap berterima kasih karena telah menemaniku pulang selarut malam ini...


Hari itu, ketika praktikum uji golongan darah, hatiku tidak bisa tenang, bagaimana mungkin guru kita menyuruh ada lima sampel darah untuk masing-masing kelompok padahal hanya ada lima orang di kelompokku? Ah, aku benar-benar tidak percaya ini. Keempat teman kelompokku dengan santai menusukkan jarum di tangannya dan darah segarpun mengalir. Aku mulai pucat dan berkeringat dingin, bergetar melihat jarum tajam di tangan kananku. Sampai sekarang aku masih ingat, seseorang yang merebut jarum dari tanganku dan menggantikan sampel darahku adalah kau. Walaupun dengan enteng kau hanya bilang, “males kalau ada yang pingsan di lab gara-gara takut jarum.” Ah biarlah aku dibilang penakut, Aku tetap senang hari itu...

Hari itu hari yang berat ketika pengumuman snmptn tiba dan aku ditolak oleh dua PTN impianku. Aku menangis semalaman karena menyalahkan diriku sendiri. paginya, seseorang meletakkan sebuah buku motivasi di mejaku dan sesorang itu adalah kau. Well, ternyata kamu tidak sedingin yang aku bayangkan. Terima kasih bukunya, aku jadi bisa tersenyum lagi... J

Entah bagaimana bisa akhirnya hanya kita berdua yang berangkat menjenguk salah satu guru kita yang sakit. Awalnya kita berangkat bersama dari depan sekolah dengan motor kita masing-masing namun di perjalanan kita berpisah. Dan sepuluh menit kemudian aku sudah berada di depan pintu rumah guru  kita, sendirian. Kau belum sampai ternyata. Saat ku berniat menghubungimu, kulihat kau sudah meneloponku berkali-kali. Belum sempat mengirimkan sms, tiba-tiba ponselku berdering, kau menelepon, “Kamu di mana?” aneh, kenapa tiba-tiba dia terdengar panik, “Hlah, kamu di mana? Mampir dulu ya? Hmm, aku udah sampai lho. Buruan lah ke sini!” tiba-tiba kau berteriak di ujung sana, “Kamu tadi lewat mana sih? Aku nyariin kamu ke mana-mana, bahkan sampai putar balik ke sekolah.”

Dengan sewot aku membalas, “Kok marah-marah si? Kenapa juga harus dicariin? Emang aku anak kecil ....” Tut tut tut, tiba-tiba kau menutup telepon. Arrgh, apa sih maksudnya. Setibanya di rumah guruku, kau terlihat sangat sebal, tidak menjawab pertanyaanku. Pulangnya gantian aku yang marah, sampai aku pulang ke rumah...
Dan aku pun tahu marahmu adalah bentuk kecemasanmu, hmm maafkan aku... J

Untuk seseorang sepertiku yang belum pernah tau apa itu pacaran dan tidak pernah mengenal laki-laki sebegitu dekatnya, bagaimana bisa kau di samakan dengan laki-laki yang lain? Bagaimana bisa kebaikanmu itu diabaikan? Tidak ada maksud apapun, Aku hanya dengan jujur ingin mengatakan terima kasih atas kebaikanmu. Mungkin terlambat tapi yasudahlah, toh waktu jualah yang kini bergulir menentukan arah kita masing-masing. J

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IELTS Test: Process Over Result

Buku Kehidupan Si Anak Rantau

Aku Akan Sibuk