Inilah Pengorbanan yang Sesungguhnya

Ceritanya Saya ini sedang ngepost tulisan-tulisan Saya yang bersarang di folder "iseng nulis" Saya dari pada hanya jadi konsumsi pribadi, dan ternyata dulu Saya pernah nulis tulisan ini. Jadi ingat ketika masa-masa capek latihan aerobik, capek yang bikin seneng. :)



Tanggal 20 November 2011. Jam menunjukkan 06.00. Gladiator, depan Gedung Graha Widya Wisuda Institut Pertanian Bogor sudah ramai oleh mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama (TPB). Visi mereka sama, meraih piala aerobik 2011.


Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Terlihat antusiasme dari wajah-wajah ceria mahasiswa TPB IPB angkatan 48. Terdengar sorak sorai yel-yel dan jargon dari setiap kelas. Gladiator benar-benar digoncang. Bagaimana tidak, hari ini diadakan penilaian aerobik sekaligus kompetisi memperebutkan piala aerobik. “Ini tidak hanya sebagai penilaian mata kuliah olah raga dan seni untuk mahasiswa TPB, tetapi sudah menjadi ajang tahunan yang akan membawa nama baik kelas masing-masing. Kelas yang terbaik akan mendapat piala dan souvenir untuk setiap anggota kelas,” ujar Huda, ketua panitia tahun ini.

Penialaian aerobik ini untuk mahasiswa TPB kelompok Q dan S dengan total peserta 23 kelas. Sedangkan untuk dua kelompok lainnya, P dan R akan dilaksanakan pada semester genap. Nomor urut tampil diumumkan tepat pukul 06.00 dengan sistem kocokan. Q09 lah yang ternyata mendapat giliran pertama tampil. Dengan semangat dan properti lengkap: ikat kepala, gelang dan banner kelas, Q kyu, begitu mereka menyebut kelas mereka, siap mengguncang gladiator.

Keputusan yang sulit
Untuk beberapa saat kemudian, komti (komandan tertinggi) kelas meminta pengunduran waktu karena ada satu anggota kelas yang belum hadir. Panitia dengan tegas memberi pilihan kepada mereka: tampil pertama tanpa satu orang atau memilih tampil paling terakhir.

“Ini benar-benar keputusan yang sulit. Kami sudah benar-benar dalam puncak semangat kami dan memang sebelumnya kami berharap untuk maju perdana,” tutur seorang mahasiswa fakultas MIPA anggota kelas Q09. Setelah berunding sekitar lima menit, akhirnya Q09 memutuskan untuk memilih tampil terakhir. “Kita tidak bisa meninggalkan dia begitu saja. Toh dia selalu datang latihan dan memang harus pulang ke rumah gara-gara nggak enak badan,” jelas seorang penanggung jawab aerobik Q09.

setelah menunggu sampai menjelang pukul 11.00 tibalah giliran Q09 unjuk kebolehan. Tiba-tiba hujan mulai turun walaupun tidak menyurutkan semangat mereka untuk tetap tampil maksimal. Penampilan pun usai, ditutup dengan salam penghormatan dari Q09. Setelah acara break sebentar, akhirnya diumumkanlah juaranya. Juara pertama diraih Q16, juara kedua diraih Q17, juara ketiga diraih Q05 dan juara favorit diraih oleh S02.

“Juri untuk kompetisi ini saya kurang kenal, hanya yang pasti, poin penilaian meliputi power, properti, kekompakan, stamina, dan variasi gerakan,” ujar ketua panitia, sekaligus komti Q13, saat setelah pengumuman juara.

Saya kira Q09 lah juaranya, kalau dilihat dari gerakannya sangat unik, barisannya juga rapi. Apalagi saya tahu bagaimana mereka latihan keras untuk ini. Sangat disayangkan kalau isu pengurangan poin gara-gara pengunduran tampil benar-benar ada,” papar salah seorang mahasiswa TPB yang menonton penilaian aerobik kali ini.

Entah isu ini benar atau salah, Q09 tetap percaya inilah hasil terbaik yang bisa mereka capai. “Yang bikin saya terharu, tidak ada satupun dari teman-teman saya yang mempermasalahkan hal itu. Seolah-olah kita memang dapat undian yang terakhir,“ ujar Tara, salah satu anggota kelas Q09.

“Saya benar-benar salut dengan teman-teman saya. Dari mereka saya belajar arti pengorbanan. Menang kalah bukan masalah bagi saya, it’s just a game. Apapun yang terjadi, kami akan maju bersama tanpa meninggalkan satupun teman kami di belakang. Kami tetap menang kok. Ya mungkin tidak menang aerobik, tetapi kami memenangkan rasa egois kami. Kamilah pemenangnya, walaupun tanpa piala,” aku seorang mahasiswi departemen Ilmu dan Teknologi Pangan di Q09.

Kekecewan memang sempat muncul di wajah mahasiswa kelas Q09, mengingat mereka yang pertama kali memulai latihan jauh-jauh minggu sebelum hari H, tetapi bagi mereka, itu bukan masalah selagi mereka tetap bisa bersama.

“Menurut saya, arti dari sebuah pengorbanan itu dimana kita bisa selalu memberikan kontribusi terbaik kita, bukan untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Terkadang, kita harus berani memutuskan sebuah perkara yang boleh jadi hal itu berat bagi kita, namun ternyata lebih banyak manfaat bagi orang-oang di sekitar kita,” sebuah closing statement dari Sawi, komandan tertinggi kelas Q09. (AKP)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

IELTS Test: Process Over Result

Buku Kehidupan Si Anak Rantau

Aku Akan Sibuk