Bersyukur
Seorang teman telah mengajariku untuk bersyukur lewat
tulisan...
Benar kata Ikal dalam novelnya yang berjudul Edensor, pernah
membacanya? pengalaman itu bagaikan cahaya yg melesat di atas rel kereta api
ketika gerbong kereta melewatinya, relative terhadap waktu walaupun hakikatnya
cahaya itu punya kecepatan yang konstan. Kemampuan pengalaman dalam hal
mencerahkan hidup seseorangpun relative tergantungnya pemaknanya. Terkadang
pengalaman yang banyak menempa butuh waktu lama untuk mencerahkan namun tidak
jarang dengan sedikit pengalaman langsung mencerahkan hidup sang aktornya, ya
kira-kira begitulah yang aku tangkap.
Semoga pengalaman demi pengalaman yang telah lama menempa
ini adalah suatu bentuk alarm pribadi apabila nantinya aku terlupa, semoga
cerita ini tak hanya sampai di hatiku saja tapi mencerahkan
sahabat-sahabatku...
Suatu takdir membawaku pada suatu penemuan ini...
membawaku berterima kasih kepada beberap sosok yang telah
mengubah pikiranku...
Sosok satu. Suatu ketika, hujan turun lebat ketika
aku berjalan sendirian menyusuri salah satu jalan di IPB, aku bertemu dengan
seorang bapak seusia bapakku, mengumpulkan sampah, di tengah hujan. Anggap saja
aku tak punya nyali untuk berbicara dengannya, karena sekitar lima menit
setelah mengamatinya, aku bahkan tak sanggup menegakkan wajahku, menahan malu.
Malu? Iya malu, karena tadi paginya aku senewen karena menu sarapanku yang
itu-itu aja. Hlah, liat bapak itu mungutin sampah di tengah-tengah hujan, yang
mungkin belum sempat makan barang sesuap pun, mungkin Beliau ditunggu istri dan
anaknya di rumah. Plak! Rasanya benar-benar seperti seseorang menampar mukaku,
Hey, masih berani senewen masalah sarapan menunya itu-itu aja?
Sosok dua. Suatu ketika, asosiasi yang aku ikuti
mengunjungi yayasan kasih anak kanker Indonesia, memang aku tak bisa ikut tp at
least aku masih berkesempatan membuat LPJ untuk kegiatannya so, aku jadi tau gambaran
kegiatannya. Dari foto-foto itu, dari cerita teman2 yang sempat ikut, cukup,
benar-benar cukup untuk bikin aku tertampar sekali lagi, CPLAK! Mereka, para
penderita kanker itu bahkan mungkin belum mencapai setengah umurku tapi, mampu
tersenyum, tertawa lepas, bahkan mengucapkan kalimat indah “Ibu, terima kasih
sudah melahirkan aku.” Hlah, mereka yang masih kecil, mengidap kanker, setiap
hari harus mengikut rehabilitasi, bisa tuh tersenyum, semangat, berbagi cinta
dengan yang lain, tapi aku? Sehat wal afiat tapi males-malesan, sering galau,
marah-marah nggak jelas. Baru demam dikit aja langsung males, mogok ngerjain tugas,
mager di kasur, demo...
Hey, masih berani males-malesan di saat orang lain
memohon kesehatan?
Sosok ketiga. Suatu ketika Ibu meneleponku,
mengabarkan kabar duka, seorang tetangga kami terpaksa harus diamputasi
tangannya karena suatu kecelakaan. Tangan! Kau bisa bayangkan bagaimana seorang
yang tadinya mempunyai tangan tiba-tiba kehilangan tangannya? Hlah, terus dua
tangan ini udah aku gunain buat apa aja? Rela nggak si kehilangan tangan kita
di saat kita seharusnya punya banyak hal baik yang bisa dilakukan?
Hey,
masih berani berbuat maksiat dengan tangan kita? Masih berani menunda kebaikan
dengan tangan ini?
Sosok keempat. Suatu ketika aku dan dua temanku
melakukan perjalanan pulang k Bogor dari sebuah event di Jakarta. Kami memutuskan
naik kereta ekonomi. Ketika kami memasuki gerbong, seorang anak kecil duduk
sendirian dekat pintu kereta. Entah kenapa aku memutuskan untuk duduk di
sampingnya. Karena penasaran aku banyak bertanya kepadanya. Satu per satu
pertanyaan aku lontarkan pada anak kecil itu. Dia ranking satu di kelasnya,
tapi kau tau? Dia kebingungan waktu aku bertanya, “Ibu kota Indonesia di mana?”
dia terus menyebutkan kota-kota di Indonesia tapi Jakarta tak pernah
disebutnya. Aku tertawa namun kemudian merasa ada sesuatu yang mengganjal
rasanya. Hlah, aku masih bisa gitu protes kok IP ku nggak bisa segede dia ya?
Kok aku nggak sepinter dia si?
Nah Hlo, dari semua ilmu yang udah didapet, pernah nggak si
mikir buat berbagi ilmu dengan orang lain? Dengan jadi mahasiswa otomatis,
kewajiban sosial pun akan muncul, sebuah konsekuensi mutlak karena
keberuntungan kita menikmati pendidikan setinggi ini.
Hey, masih berani
bermaksud pinter sendirian?
Sosok kelima. Suatu ketika shalat tarawih yang 20
rakaat itu terasa berat sekali hingga gerakan ini semakin berkurang
kekhusukannya. Hingga kemudian mata ini menangkap sosok seorang cewek
seumuranku yang mengalami keterbelakangan mental. Dia duduk di bangku dekat
sekali dengan jamaah putri, tersenyum mengamati kami. Mungkin dia pengen bisa
shalat seperti kita, mungkin dia pengen normal seperti kita.
Hlah, aku yang
sehat jiwa dan raganya, bisa gitu ya males-malesan untuk beribadah padaNya?
Hey, masih berani?
Sosok keenam. Suatu ketika aku mengikuti sebuah
kegiatan di Jakarta, seorang teman berbicara padaku, “Ayen, baca Al Qurannya
yang keras ya biar bisa denger.” “Kenapa kamu nggak baca aja?”
Tanya ku bingung. “Aku lupa bawa kaca mata, aduuh mata aku
udah parah banget sampai nggak bisa baca Al Quran.” Diam sesaat, hatiku
berdegup, ada rasa malu mendalam. Mataku normal, tapi kenapa aku punya banyak
alasan untuk hanya sekedar membaca kitab suciku sendiri?
Hey, masih berani?
Jikalau tak punya harta apa-apa sekalipun, bukankah tubuh
dengan organ yang lengkap sudah sangat cukup untuk membuat kita bersimpuh
bersyukur padaNya? Bersyukurlah dengan semangat yang tinggi menegakkan segala
kewajibanNya dan meninggalkan laranganNya. Bersukurlah dengan melakukan ibadah
secara maksimal dan hati yang khusuk. Bersyukurlah dengan saling mengingatkan
dalam kebaikan. . .
“Masih adakah alasan untuk tidak bersyukur? Maka, nikmat
Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”
"Maka, ingatlah bersyukur seperti layaknya kita selalu ingat untuk bernafas"
"Maka, ingatlah bersyukur seperti layaknya kita selalu ingat untuk bernafas"

Komentar
Posting Komentar