Loyal Brave True
Walau lagu Loyal Brave True-nya Christina Aguilera sudah sering mampir di telinga, tapi baru kemarin akhirnya kesampaian nonton film Mulan. Sebelumnya mau peringatan dulu kalau tulisan ini banyak mengandung spoiler. Jadi yang berencana nonton film Mulan dan enggak mau kena bocoran, nanti bisa balik lagi ke sini kalau sudah selesai nonton ya. Aku paham kok gimana rasanya kena spoiler. 🙂
Sesungguhnya aku bukan penggemar film Disney dan walaupun film Mulan ini diangkat dari legenda Tiongkok yang which is enggak nyata, tapi banyak poin-poin bagus yang masih relevan untuk aku renungi sebagai seorang perempuan.
Tentang Batasan Peran Perempuan dalam Berkarya
Masih ingat apa kata Ayahnya Mulan, Hua Zhou, saat kekaisaran memerintahkan setiap keluarga mengirim satu laki-laki untuk ikut berperang? Ayahnya bilang ke Mulan bahwa laki-laki membawa kehormatan lewat medan perang, sedangkan perempuan membawa kehormatan lewat pernikahan. Walau aku tidak memungkiri bahwa perempuan memang harus membawa kehormatan di dalam pernikahan, aku melihat di masa itu perempuan masih tidak punya banyak pilihan untuk berkarya di dalam masyarakat. Untuk Mbak Mulan yang diberi bakat bela diri yang luar biasa itu (atau di filmnya, disebut ‘chi’ - tenaga dalam), dia harus menyembunyikannya karena bakatnya itu alih-alih membawa kehormatan justru membawa malu untuk keluarga dan desanya. Ibarat kata enggak ada keluarga yang bangga punya anak perempuan yang enggak bisa diam dan suka manjat-manjat genteng buat nangkap ayam.
Berani Mengubah Keadaan
Titik balik pertama yang menurutku sangat epik di film Mulan adalah saat setelah Mulan dan ayahnya berbincang-bincang semalam sebelum ayahnya berangkat ke pusat pelatihan. Mulan sempat merasa enggak berdaya karena terlahir sebagai seorang perempuan, sehingga ayahnya yang sudah enggak bisa berjalan itu tetap harus pergi berperang. Sebenarnya bisa saja Mulan menyerah dan membiarkan ayahnya berperang dan menerima dengan lapang dada jika ayahnya kemudian mati terbunuh. Tapi saat itu Mulan memilih untuk berani mengambil peran untuk mengubah keadaan walaupun terlihat tidak mungkin. Keberanian ini pun pastinya enggak dia lakukan hanya karena dia nekat atau sok-sokan aja, tapi karena kuatnya keyakinan dan keberanian dalam diri bahwa dia bisa. Di sini aku juga melihat bahwa Mulan punya kesadaran diri yang kuat. Hanya karena dia yakin bahwa dia mampu, dia berani mengambil keputusan sangat berisiko ini.
Keberanian Ada Bukan Tanpa Rasa Takut
Dari sejak Mulan memutuskan untuk mengubah identitas menjadi seorang laki-laki, pergi ke pusat pelatihan, menjalani pelatihan sebagai satu-satunya perempuan di antara para penyamun, sampai diterjunkan ke medan peran melawan musuh yang begitu kuat dengan risiko pulang tinggal nama, enggak akan mungkin Mulan bertahan jika dia enggak punya keberanian. Tapi serunya, Mulan di sini mengakui bahwa dia yang super berani itu bukan berarti enggak punya rasa takut. Seperti yang ayahnya bilang, keberanian bukan berarti enggak takut, tapi tahu cara menghadapi ketakutan itu. Ketakutan itu sesuatu yang alamiah dan yang terpenting adalah bagaimana kita memilih menghadapi rasa takut itu. Fight or flight? Misal saja Mulan orangnya suka kabur kalau ada masalah atau tantangan, sudah pasti legenda Mulan enggak pernah ada.
Kekuatan Kepercayaan
Adegan yang juga enggak kalah mencuri perhatian adalah ketika Mulan akrab bener sama gengnya yang koplak-koplak itu. Sebelum maju ke medan perang, semuanya was-was karena takut besoknya pulang tinggal nama. Tapi setelah saling mengakui bahwa rasa takut itu alamiah dan yakin bahwa semua akan saling melindungi satu sama lain, rasa berani itu jadi berlipat-lipat. Ini benar banget sih. Banyak momen di mana aku merasa berkali-kali lipat lebih semangat ketika tahu bahwa aku bisa diandalkan dan punya tim yang juga bisa diandalkan.
Karena keyakinan sesama tim inilah yang buat komandan akhirnya juga yakin kalau Mulan mampu memimpin pasukan yang notabenenya laki-laki. Tim Mulan ini kerennya adalah enggak segan mengakui keberanian dan kehebatan Mulan walaupun saat itu perempuan dipandang hina banget kalau ikut berperang.
Loyal, Brave, and True
“You are liar so you will die pretending to be someone you are not,” kalimat yang diucapkan si burung elang penyihir ini juga nampol banget. Mulan yang udah enggak diragukan lagi kesetiaan dan keberaniannya, tetap enggak bisa jadi versi terbaik dirinya tanpa jadi autentik. Lebih dari menjadi autentik di depan orang lain, jujur jadi autentik dimulai saat kita sedang sendiri. Coba sambil kita ingat-ingat ya, kapan sih kita terakhir jadi sebenar-benarnya diri kita? Kita yang enggak perlu meniru atau mengkopi gaya, pandangan atau preferensi orang lain? Padahal kita tahu bahwa kita hanya bisa menjadi terbaik saat kita bisa autentik.
Setelah melepas segala atribut tipu-tipunya sebagai Hua Jun, Hua Mulan pun terbebas dari beban berat keberpura-puraannya dan berhasil menjadi lebih kuat dan berani.
Devotion to Family
Setelah berhasil menyelamatkan sang kaisar, Mulan ditawari jadi prajurit kerajaan yang mungkin saat itu jadi perempuan pertama. Tapi dia menolak. Alasan utama Mulan pergi meninggalkan keluarganya untuk berperang adalah keluarganya (agar ayahnya enggak harus pergi) dan karena alasan yang samalah dia mau kembali ke rumah walau ditawari posisi mentereng oleh kaisar. Mau sehebat apapun kita, pengabdian kepada orang tua dan keluarga tetap enggak bisa ditinggal. Enggak cuma Mulan yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan, tapi ayah, ibu dan adiknya walau sebenarnya menentang pilihannya, tetaplah yang paling mendoakannya dan memeluknya paling erat saat ia kembali ke rumah. Karena hal ini akhirnya si kaisar menambah pilar kebajikan prajurit jadi empat: loyal, brave, true, and devotion to family. Duh adegan waktu Mulan menerima pedang hadiah kaisar itu enggak akan terlupakan sih!
Di samping memang akting Mbak Yifei Liu keren banget, aku suka bagaimana film ini menggambarkan proses pembentukan karakter Mulan yang sempat merasa ragu, bingung, takut, ingin menyerah, dan bagaimana kemudian dukungan positif dari orang-orang di sekelilingnya, seperti dari ayahnya, Mas Honghui dan dari kaisar sendiri, jadi semacam bahan bakarnya untuk lebih kuat dan berdaya.
Di zaman sekarang, banyak perempuan yang mungkin masih mengalami hal yang sama dengan yang Mulan alami saat itu. Terpaksa menekuni apa yang menurut masyarakat pantas untuk seorang perempuan dan harus rela melepaskan mimpi-mimpi karena menyalahi norma perempuan kebanyakan. Padahal laki-laki dan perempuan sama-sama punya peran dan tanggung jawab yang sama yaitu menjadi khalifah di muka bumi dan menebar sebanyak-banyaknya manfaat untuk alam semesta.
Untuk semua perempuan sedang membaca ini, selamat menjadi loyal, brave and true!
#30DWC #30dwcjilid40 #Day10
Penjabaran spoiler yang baik.
BalasHapus