Pelajaran Hidup
“Semua orang
punya sisi baik dan sisi buruknya masing-masing...”
Untuk mahasiswa
FEM, FEMA, dan FATETA yang sehari-harinya sering lewat media center pasti akan
langsung tahu Siapa yang Aku bicarakan ini.
Sore itu aku
menekuk wajahku, sebal bukan kepalang setelah tahu ada yang menertawakanku di
belakang gara-gara ketidakmampuanku. Argh, nggak abis pikir rasanya tahu mereka
melakukan itu. Aku berjalan tergesa-gesa melewati koridor FEMA, kemudian sampai
di Media Center dan menangkap sebuah bayangan sosok itu. Aku tidak peduli, dan
meneruskan langkahku sampai di ujung jalan Media Center. Namun tiba-tiba dengan
cepat kakiku membelokkan arah tanpa sempat aku sadari. Aku kembali berjalan dan
tidak percaya kaki ini sampai pada sosok itu. Bapak itu duduk bersila dengan
pandangan jauh menerawang. Sedikit-sedikit aku mulai ragu untuk menyapanya tapi
kemudian senyum sang Bapak membuatku tersenyum dan seketika melupakan rasa
sebelku sebelumnya. “Ayo neng dipilih kalendernya...”
“wah,
bagus-bagus Pak kalendernya, berapaan ya Pak?”aku mulai berjongkok menekuri
setiap kalender yang berjejer. Ada yang bergambar bunga-bunga, masjid-masjid
nan indah, macam-macam.
“10 ribuan neng,
yang itu 5 ribu aja.”
Aku jadi
teringat dengan perkataan salah satu temanku tadi pagi ketika kami melewati
Bapak ini, “Jaman sekarang kok masih ada yang berjualan kalender? Di HP aja
udah ada.”
Iya, bener juga
si, kenapa sang Bapak memilih berjualan kalender ya? Di kampus lagi, di mana
notebenenya kalender bukan menjadi kebutuhan sekunder mahasiswa. Aku saja tidak
pernah berpikir mencari kalender untuk aku pasang di kamar kos. Mendadak aku
teringat sebuah cerita dari salah seorang teman yang bersekolah di sebuah Institut
Teknologi di Bandung. Di “Bara”nya kampus itu dikisahkan ada seorang Bapak yang
sampai saat temenku bercerita masih berjualan amplop surat. Bayangkan deh,
amplop surat di jaman sekarang? Di jaman di mana kita bisa kirim surat lewat
email dalam waktu hanya hitungan detik. Dan yang bikin aku kembali ternganga
adalah harganya, temenku yang waktu itu iseng membeli amplop berkata,
“Bayangkan Yen, aku beli 10 amplop harganya 2000. Jadi harga satu amplopnya
200! Coba dipikir deh, jaman sekarang 200 dapet apa coba?”
Aku bingung
bereaksi waktu itu, antara pengen bilang, “Wow” dan “Hiks”. Tapi yang jelas
bisa aku tangkap di sini adalah di luar sana, somebody feel suffer...
Oke, kembali ke
Bapak penjual kalender tadi.
“Bapak Saya
tertarik sama yang ini Pak,” Aku menunjuk sebuah kalender dengan gambar
masjid-masjid indah di dunia.
“Wah, itu bagus
neng, banyak yang suka juga. Ini tinggal satu buat eneng.” Kata sang Bapak
ceria.
Aku merogoh saku
dan memberikan uang ke Bapak itu, “Ambil aja Pak kembaliannya, Alhamdulillah
Saya ada rezeki lebih hari ini.”
Sang Bapak
awalnya tidak mau tapi akhirnya mau juga setelah aku bilang, “Anggap saja itu
bonus karena Bapak udah mau berjuang untuk rezeki yang halal.” Kataku asal.
Kalau aku hanya
berlalu saja setelah membeli kalender ini sepertinya aku akan menyesal, jadi
kuputuskan untuk lebih lama mengobrol dengan sang Bapak. Walaupun beberapa
mahasiswa yang lewat sering kali menoleh ke arahku, siapa juga yang peduli? Toh
aku bukannya mau bikin keributan atau apa.
“Makasi ya Neng,
semoga semua urusan dilancarkan sama Allah. Oia eneng dari mana?”
“Iya Pak Amin,
makasi Pak doanya. Saya dari Pekalongan. Bapak tahu kan Pekalongan, kota
Batik...” aku berusaha bersikap sebersahabat mungkin dengan sang Bapak.
“Tahulah, saya
pernah ke sana sekali. Orang di sana baik-baik. waktu itu tas saya hilang waktu
shalat di masjid tapi dicariin sama orang-orang di sana sampai ketemu. Untung
aja ada yang nolongin kalau nggak saya sudah nggak tahu gimana pulangnya neng,”
Aneh, kalau aku
jadi Bapaknya, mungkin aku akan berkata sebaliknya, “Orang di sana jahat-jahat,
masak tas saya dicuri waktu shalat di masjid? Parah kan? kalau beneran tas saya
ilang kan saya jadi nggak bisa pulang...” aku curiga Bapak ini berbeda dari
Bapak-Bapak penjual kalender yang lain, aku bertanya,
“Alhamdulillah
Pak. Tapi sebenarnya di dunia ini nggak hanya orang baik Pak yang hidup, yang
jahat juga ada. Bahkan ada yang berpura-pura baik padahal jahat.” Aku ngomong
seenaknya setelah punya beberapa pengalaman buruk. Tidak sesuai ekspektasiku,
sang Bapak malah tertawa,
“setiap orang
punya sisi baik dan sisi buruknya masing-masing. Bukan hak kita mengatur mereka
untuk menampakkan sisi baiknya. Kalau ada yang jahat, yah yakin aja kalau orang
itu juga punya sisi baik dalam dirinya. Kalau begitu jadi gampang maafin orang
dan nggak pusing-pusing mikirin orang yang jahat sama kita...”
Wah, apa-apaan
nih si Bapak malah belain orang jahat. Kalau gitu nggak usah ada polisi dan
penjara dong? Aku ngedumel dalam hati.
“Ya tapi yang
sudah terlanjur berbuat jahat harus siap menanggung hukumannya. Bisa dari Allah
ataupun oknum yang bertanggung jawab. Yang penting kita yang merasa dijahatin
jangan ada rasa dendam, dendam itu bikin sakit dan capek neng.”
Nah, yang ini
setuju bangeeet. Si Bapak bener banget dah, pasti pelajaran agama dan PKN nya
bagus. Hehe Berkat sang Bapak aku bertekad memaafkan mereka, toh mereka
temen-temenku juga, dan mereka sudah menjadi temen yang baik selama ini.
“Wah, makasi Pak
atas pelajaran hidupnya. Kalau boleh Saya tahu sejak kapan Bapak berjualan
kalender di sini?”
“Sudah lama
neng, Cuma saya jualan kalender kalau bulan November - Januari awal aja neng.
Kalau di luar itu saya di rumah. Kerja apa aja yang bisa saya kerjakan. Tapi
saya seneng neng jualan di sini, dari pada di rumah sendirian, istri saya sudah
nggak ada. Kalau di sini seneng bisa lihat mahasiswa, jadi inget waktu saya
jadi mahasiswa,...”
Aku merinding,
sang Bapak penjual kalender ini ternyata dulunya mahasiswa juga. Tapi kenapa
jadi penjual kalender seperti ini? Sekeras inikah hidup? Aku bersiap
membrondong Sang Bapak dengan berbagai pertanyaan tapi kemudian terurungkan
setelah beberapa mahasiswi jongkok di sampingku dan bertanya,
“kalendernya
berapaan Pak?”
Aku tersenyum ke
arah mahasiswi-mahasiswi itu kemudian tersenyum ke arah sang Bapak dan berucap,
“Makasi ya Pak, semangat Bapak! Assalamu’alaikum.”
Aku berjalan
menuju kosan dengan hati yang baru, hati yang memafkan. Sampai jumpa Pak,
sampai jumpa November tahun depan... terima kasih atas senyumnya yang tidak putus walaupun dihadang badai kehidupan
yang berat...

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus